Surya/

Berita Kampus Surabaya

Lewat PPMPI, Unusa Sumbang Solusi untuk Keutuhan NKRI, begini Konsepnya

Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggagas Pusat Pengembangan Masyarakat dan Peradaban Islam (PPMPI) di kampusnya.

Lewat PPMPI, Unusa Sumbang Solusi untuk Keutuhan NKRI, begini Konsepnya
surya/sulvi sofiana
KAJIAN ILMIAH - Ketua PPMPI Unusa Wardah Alkatiri menjelaskan pendirian PPMPI pada mahasiswa Unusa, Kamis (14/12/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menggagas Pusat Pengembangan Masyarakat dan Peradaban Islam (PPMPI) di kampusnya.

Hal ini dilakukan sebagai partisipasi dalam menyelamatkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

PPMPI akan mengkaji berbagai fenomena ada dengan berbagai disiplin ilmu. Hasil kajian dijadikan jurnal ilmiah serta diserahkan kepada pengambil kebijakan.

Rektor Unusa, Prof Achmad Jazidie mengatakan, Unusa selama ini fokus kepada bidang kesehatan sehingga program studinya yang tidak terkait dengan pemikiran agama.

Semuanya prodi umum, tetapi menyikapi berbagai fenomena seperti sekularisme yang mendominasi kehidupan masyarakat dan termajinalkannya kehidupan beragama, perlu dibentuk PPMPI.

"Fenomena seperti itu perlu disikapi. Intinya mencari jalan keluar yang ujung-ujungnya kita jumpai NKRI ini menjadi negara yang damai," jelasnya usai meresmikan PPMPI, Kamis (14/12/2017).

Di tahun pertama ini, lanjut dia, PPMPI akan mengkaji masalah ekstrimisme dalam beragama. Sebab, ini bukan monopoli agama tertentu.

Diharapkan, topik itu tuntas dibahas dalam setahun ini sebelum beranjak ke topik lainnya. Pembahas berasal dari berbagai perguruan tinggi dan tokoh masyarakat.

Jazidie menegaskan, PPMPI tidak terkait dengan pihak menapun atau back up siapapun. Kajian ini murni ilmu pengetahuan yang bisa dimanfaatkan masyarakat luas.

"Rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan bisa dipakai umum. Selain itu kami terbitkan ke jurnal ilmiah," ujarnya.

Ketua PPMPI Unusa, Wardah Alkatiri menambahkan, kajian akan dilakukan setiap sebulan sekali. Dalam setahun itu membahas satu topik pembahasan sampai tuntas.

"Enam bulan sekali kami terbitkan, nanti di akhir tahun dilakukan evaluasi," ujarnya.

Hasil dari diskusi-diskusi, kata dia, akan dibukukan sebagai bahan masukan bagi pemerintah dan para pengambil kebijakan agar keutuhan bangsa dan negara tetap terjaga.

"Hasilnya memang berupa pemikiran yang bisa dipakai," pungkasnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help