Opini

Menjadi Guru BK yang Dirindukan Siswa, Mengapa Tidak?

kendati tidak gampang, menjadi guru Bimbingan Konseling bukan berarti tidak susah, kembali ke guru BK apakah mau belajar atau menyerah?

Menjadi Guru BK yang Dirindukan Siswa, Mengapa Tidak?
pixabay.com
ilustrasi 

Oleh Dra Rukmini Ambarwati MPsi
Guru BK SMA Negeri 1 Gedangan

 

 

MENJADI guru Bimbingan Konseling (BK) yang dirindukan banyak siswanya sebenarnya tidaklah susah, kendati juga tidak gampang.

Fakta di lapangan stigma yang sering ditimpakan adalah guru BK yang disamakan sebagai polisi sekolah, tukang pencari masalah sehingga siswa menganggap guru BK tugasnya menangani anak-anak nakal saja.      

Semua itu tidak sepenuhnya benar tetapi juga tidak salah. Mari introspeksi diri. Benarkah semua stigma dan label terebut? Apakah sebagai guru BK, kita masih berpenampilan tidak ramah dan arogan?

Bahkan yang ekstrem lagi masih ada yang menganggap bahwa guru BK tidak ada pekerjaannya. Thenguk-thenguk saja. Makanya, tidak heran jika ada guru BK diberi tugas menjadi guru piket atau sebagai tambal butuh.

Misalnya bila ada guru yang tidak masuk, guru BK lah yang diminta untuk mengganti jam tersebut agar kelas tidak kosong. Ironisnya masih ada guru BK yang menikmati sebutan itu.

Sekarang sudah abad 21, bukan jamannya lagi seorang guru ditakuti apalagi guru BK. Yang seharusnya lebih dekat dengan siswanya. Ternyata yang diperlukan siswa jaman sekarang jauh berbeda dengan generasi kita.

Kalau ada yang mengenal permainan engkle, gobak sodor, bentengan, berarti itu generasi jadul alias lama. Disadari atau tidak berinteraksinya sangatlah sempit.

Halaman
123
Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved