Surya/

Citizen Reporter

Ketimbang Ngemis, Dewi Memilih Mengumpulkan Gelas Plastik dan Menjadi Buruh Cuci

kebaikan hati dan perjuangannya benar-benar menjadikannya bak seorang Dewi.. perempuan yang memilih menjadi buruh cuci ketimbang mengemis..

Ketimbang Ngemis, Dewi Memilih Mengumpulkan Gelas Plastik dan Menjadi Buruh Cuci
pixabay.com
ilustrasi 

Reportase Mochamad Gigih Pebrianto
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Trunojoyo Madura/aktif di UKMF LPM Sinar

 

SOSOK inspiratif bisa datang dari mana saja, termasuk dari rumah kontrakan kecil di Kamal, Bangkalan, Madura, yang ditinggali Dewi (45), perempuan pengepul gelas plastik merangkap buruh cuci

Alih-alih mengemis, meminta belas kasih sesama, Dewi memilih bekerja serabutan, asalkan halal. Kehadiran Dewi di malam dies natalis pertama Komunitas Ketimbang Ngemis Bangkalan, Kamis (23/11/2017), menjadi pencerah saat berbagi kisah perjuangannya.

Dihelat di gedung ASDP Kamal lantai dua, kesaksian Dewi dihadiri dosen, mahasiswa, sejumlah aktivis dan komunitas di Bangkaln. Di antaranya My Trip My Adventure, Gondrongers, Indonesia Belajar Mengajar, dan CIE TV.

Dewi memaparkan, sebagai mengumpulkan gelas plastik, jerih payahnya baru dihargai tiga bulan kemudian sebesar Rp 45.000. Sementara untuk menunjang kebutuhan hidup sehari-hari, ia harus menjadi buruh cuci.

Tentu saja uang sebesar itu tak mencukupi. Belum lagi untuk membayar rumah kontrakan Rp 200.000 per bulannya. Dewi juga harus merawat suaminya yang tunanetra dan lumpuh.

“Lalu, untuk makan sehari-hari dapat darimana?” tanya moderator acara.

Sembari tersenyum, Dewi menjawab, beras zakat fitrah saat Idul Fitri sebesar 30 kg dipakai makan selama satu tahun, dengan lauk seadanya.

“Saat ini musim mangga. Jika suami ingin makan mangga. Ya, mangga itu jadi lauknya,” ujar Dewi.

Cerita itu tak pelak membuat peserta terharu.

Ricky Kristiawan, Ketua Komunitas Ketimbang Ngemis Bangkalan  mengatakan, orang seperti Dewi inilah yang lebih membutuhkan media virtual.

“Butuh dipromosikan. Karena itulah kehadiran beragam komunitas di Bangkalan agar mereka mengetahui sosok seperti Bu Dewi ini,” ujarnya.

Acara pun ditutup dengan pemberian donasi kepada Dewi, berupa uang dan sembako.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help