Surya/

Berita Surabaya

3 Kampung di Surabaya Miliki Stand Bazar Portable, Ketiganya Punya Keunggulan seperti ini

Kota Surabaya terkenal dengan berbagai kampung unggulannya, kampung-kampung tersebut memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri.

3 Kampung di Surabaya Miliki Stand Bazar Portable, Ketiganya Punya Keunggulan seperti ini
surya/habibur rohman
STAND UKM - Mahasiswa mengamati aneka desain "perabot untuk pajangan hasil UKM" dari mata kuliah Desain Produk Interior lll (DPI lll) di UK Petra Surabaya, Kamis (7/12/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA – Kota Surabaya terkenal dengan berbagai kampung unggulannya, kampung-kampung tersebut memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri.

Lebih unik lagi, tiga kampung unggulan di Kota Surabaya menjadi pembelajaran mahasiswa Universitas Kristen Petra (UK Petra).

Melalui pembelajaran Service Learning mahasiswa UK Petra menggelar pameran karya mahasiswa bertajuk “Buy Local, Shop Local”.

Acara ini sekaligus  proyek mata kuliah Desain Produk Interior III (DPI III) yang merupakan mata kuliah pilihan dalam Program Studi Desain Interior UK Petra.

Para mahasiswa melibatkan tiga kampung unggulan Surabaya sebagai pengguna desain yaitu kampung kue di Penjaringan, kampung bordir di Kedung Baruk, dan kampung kerupuk di Gunung Anyar Tambak.

“Dalam mata kuliah ini, mahasiswa dibimbing tidak hanya untuk memahami desain produk interior dalam ruang komersial saja akan tetapi harus mampu mempraktekkan fungsi dan terapannya dalam masyarakat. Jadi mahasiswa dituntut untuk dapat mendesain stand atau perabot yang dapat digunakan komunitas untuk berjualan secara temporary,” ungkap Grace Mulyono, dosen sekaligus koordinator pameran DPI III ini.

Empat karya perabot atau stand bazar dan 28 karya dalam bentuk maket dengan skala 1:5 (produk interior retail) dipamerkan. Sebelum menghasilkan karya ini, para mahasiswa harus melalui survey dan evaluasi terlebih dahulu.

Regina Harijono, mahasiswa yang membuat stand untuk Pamurbaya mengungkapkan  sebelum membuat desain stand mereka melakukan survey ke tiga komunitas tersebut untuk memetakan permasalahan yang terjadi.

Ternyata para komunitas ini membutuhkan stand untuk menaruh barang dagangannya di tiap bazar akan tetapi mereka ada yang menggunakan sepeda motor. Jadi mereka diminta membuat stand bazar yang portable dan mudah dibawa.

“Desain produk yang dipamerkan ini sudah melalui proses tahapan evaluasi baik dari dosen maupun para penggunanya,” ujarnya.

Keseluruhan pameran ini diikuti mahasiswa semester 5 sejumlah 28 anak yang dibagi menjadi tiga kelompok dan menghasilkan empat karya perabot. Selama tiga hari lamanya mereka akan memamerkan hasil karyanya untuk kemudian di nilai oleh dosen dan mendapatkan masukan dari para komunitas.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help