Surya/

Citizen Reporter

Jika Guru Penulis Wisuda

dengan kerja keras menuntaskan resolusi sagusabu, sudah selayaknya para guru penulis ini diwisuda ...

Jika Guru Penulis Wisuda
pixabay.com
ilustrasi 

Reportase Eko Prasetyo
Alumnus S-2 Ilmu Komunikasi Unitomo Surabaya

 

HARI Guru Nasional, 25 November 2017 menjadi momen yang tak terlupakan bagi sebagian guru ini. Sekitar 270 guru dari berbagai daerah mengikuti Temu Nasional Guru Penulis di gedung A Kemendikbud.

Selama dua hari, Sabtu-Minggu (25-26/11), para guru penulis dan peserta lainnya berkumpul di ruangan Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud lantai 1. Setelah mengikuti upacara yang dipimpin Mendikbud Muhadjir Effendy, Sabtu (25/11) pagi.

Kegiatan yang paling menyedot perhatian adalah pameran pendidikan. Hampir seluruh unit pelaksana teknis dari Kemendikbud mengikuti acara tersebut. Selain itu, terdapat stan dari organisasi profesi, sekolah, lembaga pendidikan lain, serta media pendidikan. 

Salah satu tenant yang banyak diserbu pengunjung adalah Media Guru Indonesia. Sekitar 800 buku terbitan Media Guru Indonesia dipajang.

”Buku-buku ini merupakan karya para guru yang pernah mengikuti program satu guru satu buku (sagusabu). Ini merupakan puncak kerja keras mereka setelah menjawab tantangan deadline menulis yang ketat,” terang Mohammad Ihsan, pemimpin umum Media Guru Indonesia.

Plt Dirjen GTK yang juga Dirjen Dikdasmen Kemendikbud, Hamid Muhammad, turut mengapresiasi program sagusabu. ”Upaya ini harus terus didorong agar gerakan literasi ini bisa menyentuh semua kalangan pendidik di Indonesia,” terangnya. Saking kagumnya, ia mengambil salah satu buku karya guru dan membelinya sebesar Rp 100 ribu.

Puncak Temu Nasional Guru Penulis dihelat, Minggu (26/11). Setelah melakukan longmarch pada pagi harinya dalam ajang unjuk karya kepada masyarakat Jakarta, mereka mengikuti prosesi wisuda di gedung Kemendikbud lantai 3.

Seluruh delegasi berkumpul dan memamerkan karya mereka. Mereka berasal dari Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepri, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Tak ketinggalan delegasi guru penulis asal Kalimatan, Sulawesi, Bali, NTB, dan Maluku.

Ihsan mengatakan, literasi merupakan salah satu keterampilan yang mutlak dimiliki guru. ”Sebab, merekalah yang mencetak generasi-generasi calon pemimpin bangsa ini di masa mendatang. Maju atau tidaknya sebuah bangsa amat ditentukan oleh pemimpinnya. Guru memiliki andil terhadap hal ini. Literasi menjadi jendelanya,” tegas pria asli Jombang itu.

Sri Wahyuni Utami, guru SMPN 1 Ngoro, Mojokerto, salah satu guru penulis tampak semringah. Bukunya yang berjudul Wisata Sejarah Mojokerto turut dipamerkan di Kemdikbud. ”Semoga saya bisa semakin produktif berkarya setelah ini,” harapnya.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help