Surya/

Liputan Khusus

Kerap Dilanda Banjir, Porong Perlu Drainase dan Pompa

Banjir yang melanda kawasan Porong, Sidoarjo, harus membuat pemerintah kembali memikirkan sistem drainase yang efektif.

Kerap Dilanda Banjir, Porong Perlu Drainase dan Pompa
surabaya.tribunnews.com/m taufik
Sebuah mobil APV hanya terlihat bagian atasnya saat terjebak banjir di depan pos polisi jalan Porong. Mobil warna hitam itu baru bisa dievakuasi dengan didorong ramai-ramai oleh warga. 

Oleh : Hendi Bowoputro, Pakar Transportasi Universitas Brawijaya

PEMERINTAH daerah seharusnya sudah memikirkan sistem drainase di Jalan Raya Porong, Sidoarjo yang banjir ini. Daerah itu memang rendah atau cekung. Maka diperlukan drainase yang dibantu dengan pompa untuk menyedot air hujan di jalan raya.

Sebenarnya sudah ada beberapa pompa digunakan untuk itu. Namun apakah pompa-pompa itu standby di sana dan bisa beroperasi sewaktu-waktu? Itu yang saya belum paham. Untuk mengatasi banjir jangka pendek, pompa-pompa itu bisa ditambah.

Sementara untuk solusi jangka panjang, pemerintah daerah bisa merencanakan saluran drainase berupa gorong-gorong ke tempat yang lebih rendah dan berupa sungai, bila ada.

Dengan kondisi ini, dari sisi transportasi, aksesibilitas jadi berkurang atau bahkan bisa dikatakan terputus untuk jalur tersebut. Sementara dari sistem perkerasan jalan, banjir tersebut pasti akan merusak struktur pekerasan lentur Asphalt Concrete (AC) yang ada.

Bahkan, lama-kelamaan bisa merusak sampai lapis pondasi dan tanah dasarnya. Ini pentingnya sistem drainase diperbaiki atau dibenahi.

Adanya usulan meninggikan jalan raya tersebut bisa efektif kalau drainase juga diperbaiki. Jika tidak, air yang tergenang akan menuju ke tempat lain yang juga akan merugikan pihak lain. Air harus dialirkan dengan baik, kalau tidak, ia akan mencari jalannya sendiri yang lebih rendah tanpa peduli ke mana dia bermuara.

Jalan aspal yang terendam air dua hari saja akan berdampak parah. Apalagi lebih dari itu. Solusi perbaikannya tergantung dari tingkat kerusakan. Paling ringan, jalan hanya perlu dilapis ulang bagian atasnya.

Apabila kerusakan sudah sampai pondasi bahkan daya dukung tanah dasarnya, jalan harus dibangun ulang. Minimal tanah dasar dan pondasinya dipadatkan ulang sebelum bagian atasnya diberi lapisan beraspal atau AC kembali.

Untuk jalur jalan raya, ada solusi jalan arteri. Sementara jalur kereta api lebih terdampak karena tidak ada jalur alternatif untuk kerata api. Kereta harus menunggu air surut untuk bisa lewat. Kalau tidak, bahaya. Risiko melewati rel yang tergenang air seperti itu, kereta bisa anjlog atau keluar lintasan.

Apabila sistem jalan rel tergenang air, alas ballas atau tumpukan batu pecah di bawah bantalan rel bisa tidak stabil. Itu diakibatkan adanya gaya hidrostatis ke atas dan adanya gaya lain akibat air yang mengalir ke sana dan ke mari. Sehingga, bantalan yang di atasnya ada rel tersebut bisa bergerak atau bergeser. Jika rel tidak lurus atau meliuk-liuk, risiko untuk anjlok semakin besar. (*)

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help