Surya/

Liputan Khusus

Banjir Porong Sebabkan Pengusaha Logistik Rugi Miliaran Rupiah

Banjir di Jl Raya Porong, Sidoarjo, pekan lalu menyebabkan pengusaha logistik rugi miliaran Rupiah.

Banjir Porong Sebabkan Pengusaha Logistik Rugi Miliaran Rupiah
surabaya.tribunnews.com/m taufik
Jalur Porong yang tergenang air hingga seperti sungai. Tak ada satupun kendaraan melintas karena jalur ini ditutup total seiring kondisi banjir yang semakin tinggi, pekan kemarin. 

SURYA.co.id | SIDOARJO – Banjir di jalan raya Porong, Sidoarjo mengakibatkan kerugian material besar bagi para pengusaha logistik.

Penutupan jalan utama penghubung antara Surabaya dan Pasuruan, Malang, hingga Banyuwangi itu membuat waktu tempuh distribusi menjadi lebih lama.

Ketua DPW Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) Jawa Timur, Kody Lamaayu Fredy mengatakan, kerugian itu mencapai Rp 1 juta per unit angkutan yang biasanya melewati rute jalan tersebut. Ia memperkirakan, jumlah rata-rata unit yang jalan di sana per hari adalah 3.000. Jika ditotal, nilai kerugian itu mencapai Rp 3 miliar.

“Kami kalau menghitung secara riil, unit ke sana bisa narik dua rit (per hari). Dengan kemacetan itu, hanya 1 rit dalam sehari semalam. Rugi per unitnya sekitar 1 juta,” kata Kody, kepada Surya beberapa waktu lalu.

Kemacatan yang ia maksud, yakni yang terjadi di jalan alteri. Setelah jalan di Porong ditutup, semua kendaraan diarahkan untuk lewat jalan alternatif tersebut. Akibatnya kemacetan tak terhindarkan. Sebuah kendaraan butuh waktu dua hingga tiga jam untuk bisa melewati rute tersebut.

Ia menyebut, nilai kerugian tak bisa dihitung hanya berdasar waktu kemacetan. Meski tambahan waktu perjalanan hanya 2 sampai 3 jam, kata dia, tiap kendaraan tidak bisa mengangkut barang secara efektif. Jika harusnya tiap unit bisa membawa barang sebanyak dua rit, kemacetan menjadikan hanya satu rit per hari.

“Mengangkut barang kalau lebih tiga jam, begitu tiba di tujuan, tempatnya sudah tutup. Harus menunggu besoknya lagi. Contohnya, saya mawa barang dari pelabuhan ke Ngoro Industrial Park, macetnya itu sudah dari Sidoarjo. Sampai di arteri, terus macet. Perhitungan saya satu kendaraan bisa tembbus ke Pandaan itu 3 jam. Begitu mau masuk ke pabriknya, pabriknya sudah tutup. Menunggu besok baru buku,” jelasnya.

Pria yang juga menjabat Ketua Umum DPC Khusus Organisasi Angkatan Darat (Organda) Tanjung Perak itu menambahkan, berdasarkan data yang ada, jumlah angkutan yang bergerak saban hari di Tanjung Perak sekitar 8.000 unit. Sebanyak 3.000 kendaraan menuju daerah Pasuruan, Probolinggo, Malang, Batu, dan Banyuwangi. Kendaraan-kendaraan inilah yang memanfaatkan jalan raya di Porong saban harinya.

Jenis barang atau komoditas yang diangkut menuju daerah-daerah itu meliputi gula, beras, kedelai, jagung, bahan baku, bahan bakar dan pakan ternak.

“Karena di situ daerah industri. Dari Ngoro Industrial Park dan PIER (Pasuruan Industrial Estate Rembang). Itu sangat banyak pabrik dan kantong-kantong industri yang mengelola barang-barang untuk di ekspor,” ungkapnya. “Arah sana rugi, arah pelabuhan juga rugi.”

Halaman
12
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help