Surya/

Reportase dari Thailand

Ketika Batik menjadi Jembatan Bahasa dan Budaya Indonesia di Thailand

tidak sekadar mengajar, para guru bahasa Indonesia yang ditempatkan di luar negeri sekaligus mengusung budaya Indonesia ke mancanegara ..

Ketika Batik menjadi Jembatan Bahasa dan Budaya Indonesia di Thailand
istimewa
ilustrasi 

Reportase Sahrul Romadhon
Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Thailand

 

SELAMA menjalankan tugas negara mengajar bahasa Indonesia di Thailand, sebelum berangkat lembaga pengirim pengajar yaitu Pusat Pengembangan dan Pembinaan Strategi Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) menyarankan kepada semua pengajar, selain mengajar bahasa Indonesia juga harus memperkenalkan budaya Indonesia kepada seluruh siswa bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di luar negeri.

Pertimbangannya adalah setiap pembelajaran bahasa tidak akan pernah terlepas dari budaya yang menaunginya. Amanat ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi pengajar BIPA karena secara langsung harus memasukkan budaya ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

Setelah menganalisis kondisi siswa di Anuban Muslim Satun School, tempat penulis bertugas, di tempat ini terbagi siswa usia dini dan remaja. Temuan ini membutuhkan perlakuan berbeda karena beda daya konsentrasi, pemahaman, dan aktivitas siswa.

Bagi siswa usia dini, yaitu  sekolah dasar memiliki kecenderungan sangat aktif bergerak di  kelas dan masih membutuhkan nutrisi pembelajaran berbasis permainan.

Berbeda dengan siswa usia remaja yang memiliki rasa ingin tahu tinggi dan keseriusan dalam menjalani setiap pembelajaran di kelas.

Menanggapi fenomena itu sekaligus menindaklanjuti amanat penugasan sebelum penempatan, penulis memanfaatkan pendekatan batik sebagai jembatan budaya di sekolah. Secara tidak langsung setiap siswa pembelajar bahasa Indonesia mengetahui keunikan baju batik asli Indonesia ini.

Untuk itu langkah-langkah yang dilakukan, pertama, bagi siswa usia dini, pengajar BIPA memilih batik sebagai alat praktik penyebutan nama-namawarna dalam materi warna Indonesia.

Setiap siswa BIPA harus mampu menyebutkan nama-nama warna yang ditunjukkan oleh siswa lain di depan kelas. Langkah ini sangat praktis dan mudah dilakukan selama batik yang dipilih memiliki beragam motif warna.

Kedua, bagi siswa usia remaja, pengajar melatih dialog jual beli di pasar bagi siswa dengan menggunakan batik sebagai bahan yang diperjualbelikan.

Harapannya, setiap siswa mampu mengaplikasikan konteks jual beli dengan menggunakan bahasa Indonesia dan mengetahui pula wujud baju batik corak Indonesia.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help