Surya/

Citizen Reporter

370 Pucuk Surat untuk Guru Tercinta …

muskil saya bisa seperti ini tanpa arahan, bimbingan, dan pengajaranmu guru, karenamu saya berhasil mewujudkan semua yang saya impikan ..

370 Pucuk Surat untuk Guru Tercinta …
linda yulianti/citizen reporter
370 Murid menulis surat untuk guru tercinta 

Reportase Linda Yulianti
Guru Bahasa Indonesia di SD MT Ponorogo

 

GURU, profesi dengan ganjaran gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Semua profesi lahir dari didikan para guru. Guru adalah profesi yang melahirkan banyak profesi. Peerintah pun memberikan penghargaan bagi para guru dengan menetapkan setiap tanggal 25 November sebagai hari guru.

Menyambut dan memeriahkan hari guru, berbagai macam perayaan dilakukan. Pun siswa SDMT Ponorogo. Sabtu (25/11/2017), 370 siswa dari kelas 4, 5, dan 6, beramai-ramai menulis surat untuk guru.

Bertempat di lapangan baru SDMT, seluruh siswa antusias dan tak sabar segera menggoreskan penanya. “Pilih satu guru favorit kalian yang ada di SDMT ini, kemudian berikan alasannya kenapa kalian menyukai guru tersebut. Berikan ucapan selamat hari guru serta doa dan harapan kalian kepada guru favorit kalian tersebut,” ujar Ustadzah Yuli, koordinator acara, saat memberikan arahan kepada para siswa.

“Anak-anakku sekalian, guru adalah sosok yang akan selalu bersama kalian. Mengantar kalian dari yang tidak bisa membaca dan menulis hingga menjadi pandai. Ketika lulus dari SD, kalian akan pergi ke jenjang SMP dan bertemu kembali dengan sosok guru. Kebahagiaan seorang guru itu sederhana, melihat kalian menjadi anak yang baik dan sukses serta mengamalkan ilmu yang telah diajarkannya. Untuk itu, patuhi nasehat guru, karena mereka juga orang tuamu, meski tak pernah melahirkanmu,” papar Ustadzah Yuli.

Para siswa pun fokus pada tulisannya sambil mendengarkan alunan lagu-lagu tentang guru yang mengiringi mereka mengungkapkan perasaan lewat tulisan.

Ada satu celetuk menarik dari seorang siswa, “Ustadzah, jangan putar lagu ini, aku bisa nangis,” yang disambut tawa riuh siswa lain.

Tak terasa 30 menit berlalu, mereka masih asyik menggoreskan pena. Larut dalam tulisan masing-masing hingga ustadzah Yuli memberi aba-aba agar semua siswa segera mengumpulkan tulisannya.

“Ada beberapa poin penting dari kegiatan ini. Pertama, melatih kemampuan literasi siswa dengan cara mengungkapkan perasaannya lewat tulisan. Kedua, mengajarkan mereka untuk menghargai jasa para guru yang selama ini telah mendidik mereka tanpa lelah. Ketiga, sebagai hadiah kecil kepada para guru di hari guru ini,” ungkap Ustadzah Yuli.

Hasil tulisan dari 370 siswa ini rencananya akan dipilih yang terbaik dari setiap angkatan untuk kemudian dibukukan.

“Selain sebagai arsip, juga sebagai bukti produktivitas siswa dan untuk kenang-kenangan juga,” lanjut pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia itu.

     

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help