Surya/

Berita Banyuwangi

‎Staf Khusus Wapres ke Banyuwangi, Minta Bupati Anas Makin Giat Berinovasi

Staf Khusus Wapres RI, Prof Azyumardi Azra, meminta Pemkab Banyuwangi semakin giat berinovasi menelurkan layanan-layanan publik berkualitas

‎Staf Khusus Wapres ke Banyuwangi, Minta Bupati Anas Makin Giat Berinovasi
Surabaya.tribunnews.com/Haorrahman
Bupati Anas saat ‎Focus Group Discussion (FGD) tentang reformasi birokrasi yang digelar Sekretariat Kabinet di Banyuwangi 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Staf Khusus Wakil Presiden RI, Prof Azyumardi Azra, meminta Pemkab Banyuwangi untuk semakin giat berinovasi menelurkan layanan-layanan publik yang berkualitas sembari membenahi kekurangan yang ada.

“Pelaksanaan otonomi daerah penuh dinamika. Ada daerah yang kurang berhasil, tapi ada juga yang membuatnya menjadi peluang berinovasi seperti Banyuwangi. Inovasi-inovasi Banyuwangi menumbuhkan optimisme,” kata Azyumardi dalam Focuss Group Discussion (FGD) tentang reformasi birokrasi yang digelar Sekretariat Kabinet di Banyuwangi, Selasa (28/11).

Selain Azra, FGD diikuti Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, pakar otonomi daerah Djohermansyah Johan, peneliti senior CSIS J. Kristiadi, staf ahli Menteri PAN-RB Teguh Wijanarko, dan perwakilan berbagai daerah.

“Satu contoh saja soal transformasi Banyuwangi, hanya beberapa tahun sudah banyak penerbangan. Itu bukti ekonomi tumbuh, dan kami ingin itu kisah-kisah sukses ini tidak berhenti,” imbuh Azra.

Prof Djohermansyah Johan mengatakan, transformasi Banyuwangi bisa dijadikan contoh daerah lain. Namun, Johan mengingatkan agar Banyuwangi giat menumbuhkan budaya inovasi. "Harus dibuat sistemnya. Agar tidak ada fenomena ganti pemimpin ganti kebijakan," jelas Johan.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas mengatakan, birokrasi tidak butuh superman, tapi superteam.

“Jika one man show, pasti dehidrasi di tengah jalan, karena membenahi daerah bukan lari sprint, tapi lari marathon yang butuh ketahanan. Sehingga perlu kerja sama banyak pihak,” kata Anas.

Menurut Anas, inovasi harus terlembagakan agar siapa pun pimpinannya, inovasi terus berlangsung. Salah satu strategi yang ditempuh Anas adalah melibatkan seluruh jajaran untuk membahas program dan target secara bersama-sama. Pelibatan semua jajaran hingga level staf dilakukan sebagai bagian pembudayaan inovasi.

“Dan terbukti ini efektif. Sekarang semua dinas/badan, puskesmas, hingga desa/kelurahan berlomba-lomba berinovasi,” terang Anas.

Dia mencontohkan, Puskesmas-puskesmas kini bersaing. “Satu Puskesmas bikin hingga dua inovasi, bahkan di antaranya masuk Top 40 pelayanan publik terbaik nasional. Itu karena mereka diberi wadah berinovasi, silakan berkreasi melayani rakyat. Bebas mau bikin apa saja asal terukur,” ujar Anas.

Anas menyebut sejumlah inovasi antara lain Mal Pelayanan Publik, program akte kelahiran super-cepat, jemput bola rawat warga miskin, layanan tanpa antre bagi lansia di rumah sakit, dan layanan antar obat ke rumah warga miskin.

Selain itu, Banyuwangi mulai menggeber program Rantang Kasih yang mengirimkan makanan bergizi ke lansia miskin, uang pengganti penunggu keluarga sakit di rumah sakit, hingga inovasi yang sukses menekan angka kematian ibu/bayi di sejumlah puskesmas.

“Dan banyak inovasi lain lahir dari kreasi teman-teman karena mereka terpacu, jadi bukan karena kepala dinas atau kepala daerahnya,” pungkas Anas.

Penulis: Haorrahman
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help