Surya/

Citizen Reporter

Ketika Dilan dan Milea Berkarnaval Sastra di Bumi Arema

nyeleneh dan tidak biasa menjadi jurus Pidi Baiq membesut Dilan dan Milea yang sukses mengaduk-aduk emosi anak muda ...

Ketika Dilan dan Milea Berkarnaval Sastra di Bumi Arema
amalia safitri hidayati/citizen reporter
Pidi Baiq 

Reportase Amalia Safitri Hidayati
Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang

 

SIAPA yang tak mengenal Dilan? Tokoh fiksi dalam novel Dilan dan Milea ini tengah digandrungi anak muda karena sukses menghipnotis pembaca dengan kejenakaannya yang romantis.

Siapa sangka di balik kepopuleran itu, ada sosok Pidi Baiq yang membangun karakter Dilan lewat tulisan-tulisannya yang ringan nan unik.

Kesederhanaannya juga tercermin ketika bertandang ke Universitas Negeri Malang (UM), Rabu (15/11/2017) lalu. Berkemeja hitam, celana bercorak militer, serta topi yang menjadi ciri khasnya, ia meramaikan talkshow Karnaval Sastra Rasaku dalam Karyaku, di Sasana Krida UM.

Alih-alih menuju panggung, penulis yang akrab disapa Ayah Pidi ini muncul dari belakang peserta lantas berbaur di sana. Tak ayal membuat peserta terkejut dan refleks meminta foto.

Saat pembawa acara memintanya naik ke panggung, penulis dari Bandung ini juga mempersilakan peserta duduk bersamanya di panggung. Untung, panggung cukup lebar menampung peserta.

Alhasil, talkshow yang menjadi agenda Badan Eksekutif Mahasiswa  Fakultas Sastra UM ini menjadi acara bincang-bincang hangat sembari lesehan. Pidi mempersilakan peserta bertanya langsung kepadanya.

Salah satu peserta mengajukan pertanyaan perihal keunikan tulisan Pidi yang kerap dijadikan quote. Pidi pun menjawab, bila ia bermain komposisi kata dan tanda baca. Ketika ia ingin menyampaikan bahwa ibu adalah jantung hatinya, ia mengubahnya menjadi “ah, Ibu sudahlah. Siapa sih Engkau? Cuma jantung di dalam hatiku.”

Permainan kata dalam bukunya telah menjadi ciri khas Pidi Baiq. Menurut alumnus ITB ini, dunia kreativitas bisa bersumber dari mana saja. Ia pun kerap membaca buku psikologi sebagai referensinya.

“Saya bisa mempresensi semua benda di ruangan lalu saya kembangkan menjadi tulisan,” ujarnya.

Penulis yang juga musisi ini menuturkan penghambat tulisan seseorang adalah ketidakpercayaan diri. “Orang menulis jangan dikit-dikit diedit. Selesaikan dulu semua tulisan, baru diedit,” tambah Pidi yang mengakui bila dirinya tidak berusaha lebih baik dari orang lain, tapi berusaha lebih baik dari dirinya yang kemarin.

“Ibu adalah orang yang merasa tak berguna ketika engkau tak berkarya,” imbuhnya memotivasi peserta. Pidi pun mengakhiri sesi dengan menyanyikan lagu karyanya sembari memetik dawai gitar.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help