Surya/

Lapsus

Batik Karya PJ Collection sempat Dipakai Pelantikan Walikota Risma

Di kawasan eks Lokalisasi Dolly, terhitung ada 15 kelompok UKM. Selain KUB Mampu Jaya, ada rumah kreatif pembuatan batik.

Batik Karya PJ Collection sempat Dipakai Pelantikan Walikota Risma
foto:Aflahul abidin
Salah satu karya batik produk UKM eks Gang Dolly. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Di kawasan eks Lokalisasi Dolly, terhitung ada 15 kelompok UKM. Selain KUB Mampu Jaya, ada rumah kreatif pembuatan batik, UKM pembuat minuman dan makanan ringan, kerajinan tangan dari bahan bekas, blangkon, sablon, dan sebagainya.

Untuk bertahan dan maju seperti sekarang ini bukan hal mudah. Mereka harus berjuang sejak awal hingga sekarang. Bahkan, perjuangan itu disebut masih panjang untuk bisa benar-benar mendapat kepercayaan dari konsumen dan masyarakat luas.

Mengawali usahanya, warga sekitar lokalisasi ikut pelatihan yang digelar pemerintah. Setelah itu, mereka mulai memproduksi dan memasarkan produknya.
“Batik hasil pelatihan kami jual, kemudian kami pakai untuk modal,” ungkap Fitria Anggraeni Lestari, Ketua Kelompok UKM Batik Jarak Arum.

Anggotanya yang awalnya berjumlah 10 orang juga merotoli tinggal 6 orang. Mereka itu terdiri dari mantan PSK, mantan mucikari, penjual baju untuk PSK, penjual gorengan, tukang cuci, dan beberapa profesi yang berkaitan langsung dengan aktivitas lokalisasi saat itu.

“Kami yang dulu bisa mendapat penghasilan sampai Rp 10 juta per bulan saat lokalisasi beroperasi, harus hancur-hancuran berjuang. Untungnya ada sedikit tabungan untuk bertahan, hingga kami bisa tetap melanjutkan usaha ini sampai sekarang,” kisah Fitri.

Selain ikut dalam berbagai pameran, batik hasil karya kelompoknya juga sudah menembus beberapa pusat perdagangan di Surabaya dan beberapa daerah lain.
Sekarang ini omzet setiap bulannya rata-rata Rp 3 juta – Rp 5 juta. Saat banyak order dari mal dan sejumlah hotel, omzetnya bisa mencapai Rp 10 juta.

Perjuangan berat juga dirasakan oleh kelompok-kelompok UKM lain di Dolly.
“Jatuh bangun. Banyak teman yang tidak sabar, kemudian mengundurkan diri juga. Dan kami memaklumi itu karena sebelumnya mereka mudah mendapatkan uang, kemudian harus mengawali semua dari nol,” tutur Atik dari KUB Mampu Jaya.

Beberapa mantan PSK yang sempat ikut gabung, memilih mundur untuk kembali pulang ke kampung halaman.

“Apalagi mbak-mbaknya (eks PSK) yang dulu mudah dapat uang, kemudian
harus berjuang dengan pendapatan yang sangat minim. Kami sangat maklum dengan itu,” sambung Atik.

Tahun pertama, perjuangan itu benar-benar dirasa sangat berat. Apalagi ketika itu hanya menggarap orderan pembuatan upper atau atas sandal dan sepatu dari sebuah pabrik.

Halaman
12
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help