Advertorial

UK Petra Tandatangani Nota Kesepahaman dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual

dengan adanya kerjasama ini maka Perguruan Tinggi bisa semakin menunjukkan inovasi produk atau jasa, intelektual properti

UK Petra Tandatangani Nota Kesepahaman dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual
surya/istimewa

SURYA.co.id - Tak banyak orang tahu bahwa Kekayaan Intelektual (KI) harus dilindungi, sebab hal ini bisa membantu kehidupan masyarakat secara menyeluruh di masa mendatang.

Sebagai institusi pendidikan, Universitas Kristen Petra (UK Petra) terpilih sebagai salah satu dari 17 institusi pendidikan di Indonesia yang bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) pada Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia.

Tepatnya Selasa (31/10/2017), UK Petra menandatangani Nota Kesepahaman dengan DJKI dan Kemenkumhum tentang Pusat Dukungan Teknologi dan Inovasi atau Technology and Innovation Support Centers (TISC) di Graha Pengayoman Kementerian Hukum dan HAM, Jakarta.

Apa itu TISC? TISC merupakan bagian program dari World Intellectual Property Organization (WIPO) yang mana merupakan sebuah Organisasi Hak atas Kekayaan Intelektual Dunia berkantor pusat di Jenewa, Swiss.

WIPO adalah salah satu badan khusus Perserikatan Bangsa-bangsa yang didirikan sejak tahun 1967 dengan anggota mencapai kurang lebih 184 negara.

WIPO ini sendiri merupakan penyedia layanan akses informasi di bidang teknologi yang nantinya akan memberi kemudahan bagi para anggotanya untuk melakukan penelusuran data Paten dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sekaligus melakukan perlindungan kekayaan intelektual ke seluruh dunia.

“UK Petra termasuk terpilih karena kami dianggap mempunyai potensi KI. Dan dengan adanya kerjasama ini maka Perguruan Tinggi bisa semakin menunjukkan inovasi produk atau jasa, intelektual properti untuk kemudian dapat dimanfaatkan bagi kesejahteraan hidup masyarakat akan tetapi bisa dilindungi secara hukum”, ungkap Prof. Dr. Ir. Djwantoro Hardjito, M.Eng selaku Wakil Rektor Bidang Akademik UK Petra.

Kekayaan Intelektual meliputi hak cipta, paten, merek, desain industri, rahasia dagang, dan indikasi geografis.

Kekayaan Intelektual harus mendapatkan perlindungan, di mana perguruan tinggi selaku inovator perlu meningkatkan kesadaran mengenai kekayaan intelektual dan pengetahuan tentang manfaat kekayaan intelektual secara umum.

Khususnya tentang paten, kita perlu menguasai bagaimana mempersiapkan klaim paten serta mendaftarkannya.

Pendaftaran paten dilakukan untuk mendapatkan perlindungan dari sisi hukum, mulai dari riset, pendaftaran, pengebangan prototype hingga komersialisasi dan marketing.

Nota Kesepahaman ini berlaku untuk jangka waktu dua tahun, UK Petra mendapatkan manfaat berupa kemudahan untuk mengakses data paten Internasional, memanfaatkan resources (Sumber Daya) milik WIPO, dan juga hak untuk mengikuti pelatihan-pelatihan dari WIPO.

Nantinya kerjasama ini pada pelaksanaannya akan dibawah tanggung jawab Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) UK Petra.

“Dengan adanya Nota Kesepahaman ini, kita mendapatkan banyak privilege (hak khusus), harapan saya adalah semakin banyak ide-ide kreatif dan inovasi-inovasi yang bermunculan dari para inovator di UK Petra, yang KI-nya didaftarkan dan dikomersialisasikan,” ungkap Ir. Resmana Lim, M.Eng., selaku Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Kristen Petra. (*)

Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help