Berita Kampus Surabaya

Guna Tekan Angka Kematian akibat Penyakit Kuning, Universitas Airlangga Lakukan Tindakan ini

Penyakit kuning atau kasus hiperbilirubinemia merupakan salah satu penyebab kematian pada bayi di Indonesia.

Guna Tekan Angka Kematian akibat Penyakit Kuning, Universitas Airlangga Lakukan Tindakan ini
surya/irwan syairwan
ilustrasi bayi terjangkt penyakit kuning. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Penyakit kuning atau kasus hiperbilirubinemia merupakan salah satu penyebab kematian pada bayi di Indonesia.

Untuk menekan peningkatan kematian akibat penyakit ini, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya bekerja sama dengan University Medical Center Groningen the Netherlands (UMCG).

Perwakilan dari UMCG Belanda, Prof Arend Frederick bos mengungkapkan pihaknya menyambut hangat kerja sama kedua belah pihak dan optimis bisa menekan angka kasus hiperbilirubinemia atau penyakit kuning pada bayi.

"Kerja sama itu nanti dalam bentuk mengirim staf dosen Unair untuk belajar S3 di Belanda dan riset. Kami juga memberikan sosialisasi dengan topik terkait bahaya kuning pada bayi baru lahir yang dapat memengaruhi kecerdasan," ungkapnya di aula FK Unair, Rabu (22/11/2017).

Dia mengatakan penyakit kuning bisa dicegah dan bayi tidak perlu mengalamai kelainan seperti cacat. Pencegahan itu diharapkan bisa membuat generasi Indonesia menjadi lebih cerdas.

Ketua UKK Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Toto Wisnu Hendarto menjelaskan hiperbilirubinemia biasanya dijumpai pada bayi usia 1-2 minggu. Tidak semua gejala kuning pada bayi adalah normal.

"Gejala lain, kata dia yang paling ringan adalah malas minum, demam yang disertai dengan penurunan berat badan lebih dari 10 persen. Sedangkan kondisi berat dapat menyebabkan kejang hingga kematian," ungkapnya.

Gejala lain adalah teridentifikasi adanya perbedaan golongan darah terutama jika ibunya memiliki golongan darah O, maka harus dibawa ke rumah sakit sehingga bisa diidentifikasi secara cepat.

"Penanganan pertama pada hiberbilirubinemia adalah dengan screening terutama untuk ibu-ibu dengan golongan darah O apabila bayi terjadi hiperbilirubinemia memiliki golongan darah dengan ibu," ujarnya.

Saat ditanya data terkait bayi dengan kasus tersebut, dirinya mengatakan data lengkapnya memang tidak ada. Pasalnya untuk mendapatkan data itu, butuh satu data lokal yang bisa mendukung adanya data yang akurat di Indonesia.

"Kedua diagnosis untuk melihat seberapa berat bayinya. Bayi yang normal penanganannya adalah ASI. Portein ASI akan mengikat bilirubin tadi untuk dibawa ke hati dan dibuang lewat kotoran. Dijemur hanya untuk meningkatkan kemampuan minum terutama ASI," tuturnya.

Dirinya berharap dengan kerja sama yang terjalin antara Unair dan Belanda dengan menggabungkan riset dan klinis mampu memperbaiki registri hiperbilirubinemia sehingga akan memperbaiki tata laksana hiperbilirubinemia di Indonesia.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help