Berita Surabaya

Sidang Bos PT GBP- Dua Saksi Sudutkan Terdakwa Henry J Gunawan

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso SH menghadirkan 3 saksi sekaligus masing-masing Teguh Kinarto, Notaris Paulus, dan Widjijono Nurhadi.

Sidang Bos PT GBP- Dua Saksi Sudutkan Terdakwa Henry J Gunawan
surya/anas miftakhudin
Petugas Komisi Yudisial (KY) Penghubung Jatim memantau persidangan bos PT GBP, Henry J Gunawan di PN Surabaya, Senin (13/11/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sidang lanjutan perkara penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Henry J Gunawan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya memasuki agenda pemeriksaan saksi-saksi, Senin (20/11/2017).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso SH menghadirkan tiga saksi sekaligus masing-masing Teguh Kinarto, Notaris Paulus, dan Widjijono Nurhadi.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Unggul Warso Mukti SH, Teguh Kinarto menceritakan asal-usul perkara pidana yang menjerat bos PT Bumi Gala Perkasa (GBP) tersebut.

Sebelum perkara pidana ini dilaporkan oleh Notaris Caroline, Teguh Kinarto menjabat sebagai Direktur PT GBP.

Tetapi di tengah perjalanan dihentikan sebagai direktur pada April 2012 tanpa diberitahu oleh terdakwa. Pemberhentian itu lewat RUPS bulan Maret 2012.

Saksi mengaku tidak mengetahui keputusan itu bahkan saat diminta menandatangani perjanjian antara PT GBP dengan PT Pembangunan Perumahan senilai Rp 245 miliar untuk proyek Pasar Turi.

Ketika menjabat sebagai Direktur PT GBP, ia mengaku diminta terdakwa Henry untuk menandatangani akte jual beli tanah di Jl letjen Sutoyo, Kecamatan Claket, Malang.

Tujuan dibelinya tanah itu untuk aset PT GBP dan akan dibangun rumah sakit dan hotel.

Teguh Kinarto juga mengaku mendapat tawaran pembangunan objek tanah di Claket, Malang, oleh terdakwa dengan investasi 25 persen, yakni 10 persen untuk Widjijono Nurhadi dan 15 persen untuk dirinya.

Lalu pada 12 Juni 2010 dibuat kesepakatan menaruh saham sebesar 15 persen atau setara kurang lebih Rp 1,2 miliar untuk rencana pembangunan rumah sakit dan hotel itu.

Halaman
123
Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help