Pelaku Usaha Harus Perhatikan Politik Dalam Negeri

Untuk berinvestasi di Pasar Modal Indonesia para pelaku usaha harus memperhatikan aspek ekonomi, dan politik dalam negeri.

Pelaku Usaha Harus Perhatikan Politik Dalam Negeri
ist
Direktur Utama KSEI Friderica Widyasari Dewi menyerahkan cenderamata kepada Kapolri Jendral Tito Karnavian, saat acara Sharing Session KSEI 

SURYA.co.id | SURABAYA - Untuk berinvestasi di Pasar Modal Indonesia para pelaku usaha harus memperhatikan aspek ekonomi, dan politik dalam negeri.

Demikian menurut Direktur Utama PT KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Friderica Widyasari Dewi, melalui rilis yang diterima Surya, Senin (20/11/2017)

“Kita sebagai pelaku juga harus mengetahui update terbaru dalam kedua aspek tersebut," kata dia Friderica.

Untuk membahas lebih detail terkait hal itu, KSEI menyelenggarakan sharing session kepada para pemakai jasa KSEI, Senin (20/11/2017) dengan mengusung tema Indonesia 2018 - Sailing Through Economic and Political Tide.

Acara sharing session yang diselenggarakan di Main Hall, Galeri Bursa Efek Indonesia dengan dihadiri sekitar 600 undangan yang terdiri dari Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Komisaris dan Direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) serta para pemakai jasa KSEI yang terdiri dari Perusahaan Terdaftar (Emiten), Perusahaan Efek, Bank Kustodian, Biro Administrasi Efek, Bank Pembayaran, Bank Administrator Rekening Dana Nasabah (RDN), Agen Penjual Reksa Dana dan Manajer Investasi.

Kegiatan ini diawali dengan pembukaan perdagangan Bursa oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian, yang juga menjadi salah satu narasumber pada sesi sharing session.

Menurut Tito, Indonesia berpotensi menjadi negara dominan dengan pertumbuhan ekonomi di atas 5% serta adanya stabilitas keamanan dan politik.

Saat ini, dikatakan dia, demokrasi mengarah pada liberalisme. Demokrasi yang baik akan menciptakan check and balance, persoalan yang harus diwaspadai adalah demokrasi kebablasan yang kemudian diterjemahkan boleh berbuat apa saja sehingga berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi dan politik.

Sementara Kepala Departemen Pengawas Pasar Modal 2A OJK, Yunita Linda Sari, yang juga hadir dalam acara ini menyampaikan terima kasih kepada KSEI dan seluruh pemakai jasa KSEI yang telah berperan serta dalam mengembangkan Pasar Modal Indonesia.

"Kami berharap melalui kegiatan ini akan terjadi diskusi yang konstruktif dan berkontribusi optimal serta menjadi wahana untuk berbagi pengetahuan di antara pelaku pasar modal. Kami juga berharap pelaku pasar dapat meningkatkan kinerjanya guna mendukung perkembangan pasar modal dalam menghadapi tantangan global," ujarnya.

Dalam sharing session itu, Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gajah Mada, A Tony Prasentiantono, menyampaikan bahwa Perekonomian Indonesia masih tumbuh pada kisaran 5% karena kelesuan ekonomi sebagai dampak ketidakpastian serta agresitivitas pajak yang menyebabkan konsumen cenderung mengerem konsumsi.

"Ada beberapa hal positif yang dapat membuat pertumbuhan ekonomi 2018 lebih tinggi yakni 5,3%, antara lain stabilitas harga komoditas, stabilitas rupiah, peningkatan investasi, capital inflows dan inflasi yang tetap rendah," urainya.

Tony memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia masih bisa meningkat ke level 6-7% di kemudian hari karena saat ini pemerintah tengah giat membangun infrastruktur yang dampaknya baru dapat dirasakan kelak.

"Perkembangan nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini juga menunjukan optimisme pasar terhadap prospek perekonomian Indonesia," imbuhnya.

Penulis: M Taufik
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help