Surya/

Sosok

Windy Agustin: Bertekad Mandiri

Sadar terlahir dari keluarga tidak mampu, Windy Agustin Prasetyawati Putri Iswandy bertekad tidak ingin membebani kedua orangtuanya.

Windy Agustin: Bertekad Mandiri
surya/achmad pramudito
Windy Agustin Prasetyawati Putri Iswandy 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sadar terlahir dari keluarga tidak mampu, Windy Agustin Prasetyawati Putri Iswandy bertekad tidak ingin membebani kedua orangtuanya.

Itulah alasan kuat Windiy selalu berusaha keras agar bisa mempertahankan prestasi akademiknya.

Hasilnya? Sulung dari tiga bersaudara ini selalu mendapat beasiswa. Saat SMA Windy berhasil menempati posisi tiga besar sejak kelas 1 hingga kelas 3, karena itu di kelas 3 dia dibebaskan bayar SPP.

Saat kuliah pun Windy bersyukur bisa mendapat beasiswa bidikmisi. “Memang tidak mudah. Tapi setiap kerja keras pasti ada buah yang menggembirakan,” kata gadis yang masih menempuh pendidikan semester 5 di Fakultas Hukum Universitas Airlangga ini.

Kuncinya? Windy menandaskan setiap di kelas dia selalu menyimak materi pelajaran yang disampaikan oleh guru maupun dosen.

“Saat pejalaran berlangsung saya nggak pernah mencatat, namun terus mendengarkan penjelasan dari guru (dosen),” ungkapnya.

Begitu pelajaran usai, Windy yang juga menggeluti profesi sebagai model ini akan meminjam catatan temannya.

“Kebetulan ada teman yang tulisannya bagus dan rapi, catatan dia yang saya pinjam lalu saya fotokopi dan kembali dibaca di rumah,” bebernya.

Yang penting, lanjut Windy, adalah memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru di kelas. Sehingga ketika membaca catatan yang dia dapat dari temannya sudah memahami materi yang dia peroleh sebelumnya saat di kelas.

Tak hanya itu. Jiwa mandiri Windy juga ditunjukkan dengan semangatnya bekerja di sebuah restoran cepat saji. Kali ini pun Windy bersyukur sebab dia bisa bekerja tidak setiap hari.

Perempuan bercita-cita menjadi seorang jaksa ini bekerja setiap hari Senin, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Untuk Senin dan Jumat dia lakukan pada sore hari, sedang Sabtu dan Minggu pada pagi hari.

“Saya sesuaikan dengan jadwal kuliah,” beber alumnus SMA Wachid Hasyim 1 Surabaya ini.

Itu semua dia lakukan karena menyadari sang ayah yang bekerja sebagai satpam dan ibu yang menggeluti usaha kuliner dan berjualan di depan rumah mereka ini masih punya tanggungan pendidikan dua adiknya.

“Untungnya, adik juga dapat beasiswa sehingga beban bisa lebih
ringan,” ungkapnya.

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help