Surya/

Berita Surabaya

Tersangka Dugaan Korupsi Kredit Peternakan Sapi Senilai Rp 5,3 Miliar Kemungkinan Bertambah

Jumlah tersangka dalam dugaan korupsi Kredit Usaha Peternakan Sapi yang merugikan negara Rp 5,3 miliar diperkirakan bisa lebih dari 16 orang.

Tersangka Dugaan Korupsi Kredit Peternakan Sapi Senilai Rp 5,3 Miliar Kemungkinan Bertambah
surya/istimewa
ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Jumlah tersangka dugaan korupsi Kredit Usaha Peternakan Sapi (KUKPS) di Pacitan, diperkirakan bisa mencapai lebih dari 16 orang. Sebab, selama proses penyidikan, penyidik Kejati Jatim mulai mencium adanya kejanggalan saat penyerahan sapi ke kelompok ternak. 

Kejanggalan yang sudah dikantongi penyidik adalah tidak terdaftarnya kelompok ternak Agromilk I dan Agromilk II di Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Pacitan. Padahal sebagai syarat utama untuk mendapatkan kredit, kelompok haruslah terdaftar.

Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Jatim, Richard Marpung SH, menjelaskan penyidik terus menggali informasi di lapangan dalam penyidikan KUPS di Pacitan. Pasalnya, jumlah kerugian negara cukup besar yakni mencapai Rp 5,3 miliar.

"Penyidikan terus berlangsung untuk mendapatkan bukti yang otentik," tutur Richard Marpaung, Selasa (14/11).

Dalam kasus ini, kata Richard Marpaung, penyidik sudah memeriksa Bank Jatim selaku pengucur kredit. Namun saat didesak apakah ada tengara atau indikasi permainan antara tersangka dengan pihak lain?

"Itu masuk pokok materi. Jangan masuk materi pemeriksaan mas," paparnya.

Apakah nantinya penyidik juga akan memeriksa dinas terkait untuk mengcros cek tidak terdaftarnya dua KUPS itu?

"Nanti akan dijadwalkan," jelas Richard.

Dalam penanganan kasus ini, penyidik telah menahan 16 tersangka. Jumlah itu adalah yang terbanyak dalam sejarah di Kejati Jatim. 

Enam belas tersangka yang ditahan adalah Ketua KUPS Agromilk I, Efendi; Sekretaris, Ary Wibowo ; Bendahara Moch Asmuni dan anggota Kardoyo, Sutrisno, Ali Arifin, Susilo Sukarfi dan Wily Taufan.

Halaman
12
Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help