Surya/

Berita Pasuruan

Seorang Pemuda Bernama 'Polisi' Jadi Tenar Setelah Kena Tilang. Ternyata, ini Kisah di Baliknya

Seorang pemuda bernama 'Polisi' menjadi tenar setelah kena tilang di Pasuruan. Ternyata, inilah kisah di balik pemberian nama tersebut.

Seorang Pemuda Bernama 'Polisi' Jadi Tenar Setelah Kena Tilang. Ternyata, ini Kisah di Baliknya
surya/galih lintartika
Surat tilang pria bernama Polisi, warga Dusun Pengarengan, Desa Kalipang, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, yang viral di media sosial. 

Illyyin mengaku tidak terbesit sedikit pun untuk memberikan nama pada anak pertamanya itu polisi.

Kata dia, nama polisi ini sebenarnya hanya guyonan semata.

Ceritanya, saat Polisi dikandung empat bulan, mendiang suaminya sempat bercanda dengan beberapa temannya. Candaan itu dilakukan almarhum di pelataran rumahnya.

“Saat itu, suami saya bercanda ke teman-temannya. Kalau anak saya laki-laki, saya pasti akan kasih nama polisi, biar kalian semua ditembak sama anak saya,” kata Illyyin menirukan kalimat yang diucapkan suaminya kala itu.

Selanjutnya, selang beberapa bulan, ia mengaku sudah waktunya untuk melahirkan. Saat terlahir di dunia, ternyata anaknya laki-laki. Ia bersama suaminya sepakat untuk tidak memberikan nama polisi pada anak itu. Bahkan, suaminya langsung mencarikan nama buah cinta pertamanya. Akhirnya, mereka memberi nama bayi mungil itu Muhammad Muchlas.

“Nama yang bagus dengan makna yang bagus juga. Kami sudah sangat senang kala itu,” kenang Illyin.

Polisi (kanan) saat ditemui di kediamannya. Di foto sebelah kiri, tampak masa kecil Polisi bersama mendiang ayahnya.
Polisi (kanan) saat ditemui di kediamannya. Di foto sebelah kiri, tampak masa kecil Polisi bersama mendiang ayahnya. (surabaya.tribunnews.com/galih lintartika)

Dikatakannya, tak lama berselang, paska nama itu sudah dipatenkan, si bayi ini justru sakit – sakitan. Ia mengira, semula ini hanya sakit biasa. Namun, lama-kelamaan , si bayi ini sakitnya tak karuan. Hampir setiap hari ke dokter dan tukang pijat. Puluhan juta dikeluarkan Illyyin dan suaminya untuk kesehatan anaknya.

“Kami sempat ganti nama sebanyak empat kali. Pertama Muhammad Muchlas, kedua Muhammad Musofak, Iksan, dan Muchlisin. Tetapa saja, dia tetap sakit-sakitan,” ungkapnya.

Sakitnya, kata Illyyin, ini tidak tetap. Menurutnya, terkadang sakit panas, muntaber, dan masih banyak lagi. Pokoknya, selama satu tahun di usianya pertama, polisi ini harus bolak – balik masuk rumah sakit dan tukang pijat. Akhirnya, suatu ketika, ia bertemu dengan tukang pijat.

“Saat itu, tukang pijatnya datang ke saya dan menanyakan apa saya dan suami pernah memiliki nadzar untuk memberi nama bayi itu. Saya mulai berfikir dari situ,” katanya sambil meneteskan air matanya.

Halaman
1234
Penulis: Galih Lintartika
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help