Surya/

Reportase dari Filipina

Begini Asyiknya Belajar Pendidikan Kewirausahaan di Negara Duterte Ini

masyarakat marj peran wanita dalam wirausaha, hingga capacity building dan human resource menjadi kajian peserta di negara

Begini Asyiknya Belajar Pendidikan Kewirausahaan di Negara Duterte Ini
akhmad kanzul fikri/citizen reporter
Pertemuan kewirausahaan di Manila 

 

Reportase Akhmad Kanzul Fikri
Ketua Yayasan PP Al Aqobah Jombang/Dosen Unwaha Jombang

 

 

PENGALAMAN berharga penulis dapatkan ketika berpartisipasi di ajang Meeting on Entrepreneurship Education di Manila, Filipina, 23-26 Oktober 2017. Di ajang ini adalah keempat kalinya penulis mewakili Ponpes Al Aqobah, Jombang, di Thailand, Malaysia dan Singapura.

Acara bertemakan pendidikan kewirausahaan ini diselenggarakan secara rutin setiap tahun oleh UNESCO, PBB, dan diikuti oleh negara-negara anggota Asean, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei, Laos, Vietnam, dan negara negara Asia Pacific, semisal Jepang, China, Korsel, India, Pakistan dan lain sebagainya. Pada tiap tahun, lokasi acara bertempat di lain negara untuk mendapatkan nuansa baru dan pengalaman berbeda.

Tiba di bandara Manila, peserta disambut oleh panitia ASEAN 50, mendapat kalungan syal khas Manila dan free ride menuju Hotel Marco Polo Ortigas. Negara yang dipimpin Presiden Duterte ini siap dan serius menjadi tuan rumah ASEAN 50.

Esoknya, pertemuan dimulai dengan beberapa sambutan dari UNESCO dan Miriam College, tuan rumah. Di kesempatan ini pula, para delegasi melakukan sesi grup foto kemudian berselfie dengan peserta yang mengenakan busana tradisional khas negara masing-masing. Usai berfoto, kami berkenalan dan bertukar kartu nama antar peserta untuk membangun networking di kemudian hari.

Kegiatan ilmiah ini diikuti 150 peserta dari 19 negara. Latar belakang peserta pun beragam, mulai dari entrepreneur, professional, expert, policy maker, peneliti, hingga teacher educator.

Pertemuan ilmiah ini membahas tentang tantangan kewirausahaan di era millenial dengan dinamika perubahannya yang sangat cepat dan serba tidak pasti, serta menyamakan standart kualitas dan visi terkait pendidikan entrepreneurship.

Di hari kedua, pertemuan lebih mengerucut dan fokus ke sejumlah sub-tema, seperti: penyatuan visi kurikulum, masyarakat marjinal, kesetaraan gender dan peran wanita dalam wirausaha, hingga capacity building dan human resource.

Peserta dibagi beberapa kelompok kecil untuk bertukar ide dengan delegasi negara lain. Peserta informasi tentang hambatan dan tantangan pendidikan entrepreneurship di masa mendatang.

Pada akhir pertemuan, peserta melakukan city tour, mengunjung Miriam College guna melihat lebih dekat kegiatan entrepreneurship di kampus tersebut hingga menjelang malam tiba. Tidak lupa para mahasiswa unjuk kreativitas dengan memamerkan beberapa karya lukis dan desain baju khas negara negara Asia Pasifik.

Tentu, pertemuan semacam ini membuka wawasan dan cakrawala berpikir peserta sebagai generasi bangsa tentang persaingan ekonomi dan pendidikan di tingkat international. Sebuah pengalaman yang ternilai bagi kaum muda untuk belajar tentang pendidikan kewirausahaan pada pakarnya  secara langsung.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help