Surya/

Citizen Reporter

Memaknai Metamorfosis di Tengah Krisis

metamorph representasi Arham F Hasanuddin, Dwiyana Putra, dan Krisnawa Adi Bhaskara, 3 anak muda yang mencari akhir berbeda dalam fase yang sama..

Memaknai Metamorfosis di Tengah Krisis
pixabay.com
ilustrasi 

Reportase Johar Kumarasari
Mahasiswi Manajemen Universitas Negeri Malang

       ...apalah arti kesenian, jika terpisah dari masalah sosial…

KUTIPAN di atas adalah pemikiran sang legenda kesusastraan Indonesia, WS Rendra. Cara pandang Rendra dalam memaknai kesenian, memiliki kesamaan dengan tiga pegiat seni dari UKM Sanggar Minat Universitas  Negeri Malang.

Merekalah Arham F Hasanuddin, Dwiyana Putra, dan Krisnawa Adi Bhaskara, yang menemukan bahwa krisis sosial di era milenial berpengaruh terhadap perilaku manusia dan kehidupannya. Mulai dari cara berinteraksi, cara mencari informasi, dan cara menanggapi beragam fenomena yang silih berganti.

Perubahan tanpa henti, memicu daya adaptasi setiap orang untuk bisa bertahan hidup. Analogi sederhana, dapat dilihat dari cara serangga yang bermetamorfosis untuk mempertahankan eksistensinya. Begitu pula manusia yang perlu metamorfosis untuk menghadapi krisis.

Konteks krisis di sini ialah krisis mental dan krisis moral yang menimbulkan masalah sosial. Salah satunya ialah krisis identitas dalam memaknai keberagaman. Sekaligus merayakan Sumpah Pemuda 28 Oktober, para seniman muda ini berkolaborasi menampilkan estetika secara berimbang untuk memaknai persatuan. Ketiganya memiliki ciri khas masing-masing saat berkesenian namun tetap bersatu dalam keharmonisan.

Oleh karena itu, karya-karyanya patut diapreasisasi dalam sebuah collective art exhibition bertajuk Metamorph yang terselenggara pada 23-25 Oktober 2017 di Semeru Art Gallery, Jalan Semeru No. 12 Malang. 

Keunikan proses metamorfosa pikiran manusia diinterpretasikan dalam karya visual dan fotografi. Karya instalasi berjudul Daun-daun,  cukup menarik perhatian. Karya yang terbuat dari kertas bekas yang ditempelkan pada kayu tersebut, berusaha menyampaikan pesan bahwa  dahulu kertas ini adalah daun-daun yang dimakan untuk bisa berfotosintesis. Daun dan kayu itu kini telah menjadi kertas. Sebuah kritik sosial untuk para pemangku kepentingan yang membiarkan lahan hijau kian terbatas.

Selanjutnya karya fotografi Arham berjudul Ledakan Memori, menguak kembali ingatan kita pada perjalanan waktu yang saling berkejaran. Penggunaan warna hitam putih memperdalam kesan tentang perubahan mindset manusia tak terbatas ruang dan waktu.

Beralih pada lukisan Dwiyana berjudul Tidak Punya Muka, memvisualisasikan ketiadaan identitas individu yang bersembunyi di balik muka lain. Kebingungan dan dilema pencarian jati diri, dikemas unik melalui karya dua dimensi.

Pameran karya ini merepresentasikan inisiasi tiga pemuda yang mencari akhir berbeda, dalam fase yang sama.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help