Surya/

Berita Surabaya

KY Pantau Sidang Penipuan dan Penggelapan Senilai 4,5 Miliar Dengan Terdakwa Henry J Gunawan

Komisi Yudisial memantau jalannya sidang kasus penggelapan senilai Rp 4,5 miliar yang menjerat terdakwa Henry J Gunawan di PN Surabaya.

KY Pantau Sidang Penipuan dan Penggelapan Senilai 4,5 Miliar Dengan Terdakwa Henry J Gunawan
Surabaya.tribunnews.com/anas miftakhudin
Sidang dugaan penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Henry J Gunawan di PN Surabaya, Senin (13/11/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA  - Komisi Yudisial (KY) memantau jalannya sidang kasus penggelapan dan penipuan senilai Rp 4,5 miliar yang menjerat terdakwa Henry J Gunawan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (13/11).

Pemantauan itu dilakukan KY Penghubung Jatim selaku kepanjangan tangan KY Pusat.

"Sudah dua kali ini, kami mengikuti persidangan perkara ini," kata Ubed, dari KY Penghubung Jatim di PN Surabaya.

Dalam pemantauan itu, Ubed tak mau menyebut atas laporan siapa.

"Saya lupa siapa pelapornya, karena banyak laporan. Tapi yang pasti kami dari KY Penghubung Jatim dapat mandat untuk memantau persidangan perkara ini," jelasnya.

Diakui Ubed, KY Penghubung Jatim menerjunkan dua orang untuk memantau jalannya sidang Henry. "Yang melakukan pemantauan saya dan Ragil," sambungnya.

Sementara, saat KY memantau jalannya sidang perkara ini digelar di ruang Candra PN Surabaya dengan agenda mendengarkan keterangan empat orang saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso.

Keempat saksi itu adalah, Yudi Alfian Tedjo dan Ane Tandio, dua orang pembeli tanah (objek masalah), serta Notaris Hengky Budi dan Mantan Dirut PT Gala Bumi Perkasa (GBP), Raja Sirait.

Turunnya KY dalam sidang kasus Henry J Gunawan di PN Surabaya merupakan buntut dari Laporan Gerakan Putra Daerah (GPD) Surabaya ke Komisi Yudisial RI beberapa waktu lalu. GPD mengadukan hakim Unggul Warto Mukti SH ke Komisi Yudisial RI dan Bawas MA RI.

Ada beberapa poin dalam pengaduan itu. Di antaranya, pemberian penetapan penangguhan penahanan secara lisan dan dikabulkan oleh hakim Unggul.

Selain itu, adanya pembatasan saksi fakta yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum serta hakim Unggul melakukan pembiaran pada terdakwa atas aksi terdakwa Henry J Gunawan yang tidak menghormati saksi fakta, dengan menunjuk-nunjuk saksi sambil bernada emosional.

Selain itu, adanya larangan hakim Unggul pada JPU Ali Prakoso SH saat ingin membeberkan sejumlah bukti keterangan saksi terkait pembuktian materiilnya. Hakim dianggap justru memberi lampu merah pada Jaksa Ali Prakoso dengan melarang membaca BAP saat mengkonfirmasi keterangan saksi.

Henry J Gunawan adalah terdakwa dalam kasus dugaan penggelapan dan penipuan tanah senilai Rp 4,5 miliar.

Bos PT GBP ini dilaporkan Notaris Caroline C Kalampung. Saat itu, Notaris Caroline mempunyai seorang klien yang sedang melakukan jual beli tanah sebesar Rp 4,5 miliar. Setelah membayar ke Henry, korban tak kunjung menerima Surat Hak Guna Bangunan (SHGB).

Keyika korban ingin mengambil haknya, Henry mengaku SHGB di tangan Notaris Caroline. Setelah dicek, Caroline mengaku SHGB telah diambil seseorang yang mengaku sebagai anak buah Henry. Kabarnya, SHGB itu ternyata dijual lagi ke orang lain dengan harga Rp 10 miliar. 

Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help