Surya/

Lifestyle

Tantra Ginting Rayakan Guiness Batik Fridays, "Batik Mempersatukan Kita"

Artis tampan Tantra Ginting tak mau ketinggalan mengikuti acara Fuiness Batik Fridays di De'Oak Cafe, Surabaya, Jumat (10/11/2017).

Tantra Ginting Rayakan Guiness Batik Fridays,
surya/pipit maulidiya
Tantra Ginting dalam Fuiness Batik Fridays di De'Oak Cafe, Surabaya, Jumat (10/11/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Artis tampan Tantra Ginting tak mau ketinggalan mengikuti acara Fuiness Batik Fridays di De'Oak Cafe, Surabaya, Jumat (10/11/2017).

Pria keturunan Karo, Medan ini tertarik bergabung lantaran punya pengalaman yang bisa dia bagi, khususnya bagaimana cara memaknai kain tradisional, khususnya batik.

"Aku suka batik dan kain tradisional lainnya. Selama 14 tahun tinggal di California kami merayakan acara-acara kenegaraan selalu menggunakan batik. Semua, mau dia suku atau ras apa pun itu. Jadi seebnarnya budaya ini yang menyatukan kita," tuturnya semangat.

Tanta mengaku bahkan dirinya punya ciri khas dalam pada setiap penampilannya. Dia selalu menggunakan batik, atau pun kain tradisional lainnya.

"Itu memang sudah jadi salah satu misi saya, yaitu mengangkat budaya. Untuk itu saya tertarik saat ada kegiatan peluncuran Guninness Batik Fridays ini. Bagi saya ini cara mudah untuk semakin memperkenalkan budaya sih. Orang akan ingat Indonesia," tuturnya.

Guinness Batik Friday merupakan rangkaian acara peluncuran kemasan terbatas, bertema One Indonesia edition yang menggunakan motif batik.

Assistand Chief Representative Officer for Diego, Adrienne Gammie menuturkan dalam rangkaian acara mereka akan mengajak sejumlah orang untuk mengerti bagaimana desain dan misi tentang dua motif batik, yang dirilis secara terbatas.

Dua desain kombinasi warna hitam dan putih itu di desain oleh Darbotz dan Ykha Amelz. One Indonesia Edition terinspirasi oleh prinsip Pancha Mahabhuta yang menggabungkan unsur yang bertolak belakang.

Di antaranya api (teja) dengan air (apah), dan bumi (perthiwi) dengan udara (bayu). Untuk menciptakan pola yang harmonis dan menyatu.

"Desainnya merupakan wujud dari semangat merayakan Indonesia pada umumnya (Sukhsma Sarira) yang tercermin dalam kerja tim agau gotong royong. Mengambil keputusan bersama, dan pedoman nasional BhinekaTunggal Ika," jelas Adriennee.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help