Surya/

Citizen Reporter

Satu Jepretan untuk Keabadian Warisan Sejarah

ketika waktu sebatas hitungan angka, tidaklah demikian ketika setiap kepingan dan memori sejarah bisa disuguhkan dalam rekaman otentik fotografi...

Satu Jepretan untuk Keabadian Warisan Sejarah
pixabay.com
ilustrasi 

Reportase Moch Nurfahrul Lukmanul Khakim SPd MPd
Dosen Sejarah di Universitas Negeri Malang

 

FOTOGRAFI tak hanya tentang mendokumentasikan sebuah objek dalam bentuk montase. Fotografi berperan penting dalam menyajikan data yang akurat dengan teknik pengambilan gambar yang tetap bersahabat. Fotografi mengajak manusia untuk memahami objek terlebih dahulu sebelum memotretnya agar mampu memberikan sentuhan emosi yang nyata. Fotografi bukan sekadar jeprat-jepret lalu unggah di media sosial, fotografi justru memaknai setiap proses dan hasil.

Selama dua hari, workshop fotografi bertema Mengabadikan Artefak dan Situs Sejarah diselenggarakan Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang untuk mahasiswa sejarah. Workshop ini untuk membekali mahasiswa sejarah kemampuan mendokumentasikan warisan sejarah sebagai bahan penelitian, pengabdian dan pendidikan.

Fotografer spesialis budaya alumnus Institut Seni Indonesia, Ikhwanussofa, menekankan kepada peserta workshop untuk mengenali detail objek sejarah dulu sebelum memotretnya.

Hari pertama workshop fotografi di Laboratorium Sejarah FIS UM, Ikhwanussofa memaparkan teknik-teknik dasar fotografi, khususnya penentuan perpektif. Sebuah perpektif ditentukan oleh jarak antara objek dan kamera, sudut pengambilan pada posisi vertikal maupun horisontal, dan penggunaan focal lenght yang berbeda.

Perspektif ini penting karena objek sejarah berbeda dengan objek lain sehingga disarankan mengambil posisi horisontal. Ikhwanussofa juga menjelaskan tentang fotografi jurnalistik yang telah menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia. Perkembangan fotografi jurnalistik di Indonesia beriringan dengan perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Gambar-gambar sejarah seperti proklamasi kemerdekaan bukan hanya hasil keberuntungan para pelakunya, namun merupakan kegigihan dan komitmen yang mendalam.

Hari kedua workshop, Ikhwanussofa memberikan pengarahan langsung pada mahasiswa sejarah selama praktik langsung di Kawasan Cagar Budaya Candi Badut. Delapan puluh mahasiswa sejarah menikmati proses praktik fotografi tidak hanya dengan kamera profesional tetapi juga kamera ponsel. Mahasiswa mampu memanfaatkan kamera ponsel dengan teknik perspektif yang pas sehingga menghasilkan foto yang menarik. Sebenarnya fotografi jurnalistik justru lebih menekankan pada cerita di balik setiap foto.

Oleh karena itu, fotografer justru harus mampu memanusiakan setiap warisan sejarah. Karena pada dasarnya, setiap warisan sejarah juga karya manusia yang telah melintasi berbagai zaman. Melihat keceriaan dan semangat para peserta dalam mengenal objek sejarah untuk diabadikan memberikan napas baru bagi masa depan fotografer khusus sejarah di Indonesia kelak.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help