Surya/

Citizen Reporter

Menyingkap Potensi Sastra Lisan di Indonesia

banyak sekali potensi sastra lisan di Indonesia yang belum terjamah dan akan menjadi potensi serta peluang besar bagi para pegiat sastra..

Menyingkap Potensi Sastra Lisan di Indonesia
kompas.com/iwan setiawan
Ilustrasi wayang kulit 

 

Reportase Ahmad Junaidi
Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang

 

SASTRA lisan merupakan inventaris berbagai fenomena budaya yang hidup dalam suatu komponen masyarakat. Pewarisan secara oral dalam sastra lisan berpotensi melahirkan banyak variasi dan versi. Hal inilah yang menjadikan sastra lisan hadir dengan eksistensi dan potensinya sendiri.

Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) mengeksplorasi potensi sastra lisan di Indonesia ini dalam seminar nasional sastra lisan 2017, Rabu (18/10) di Gedung Aula Fakultas Sasra E6 UM.

Sebagaimana dikatakan Prudentia MP, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan dan Dosen FIPB Universitas Indonesia, banyak sekali potensi sastra lisan di Indonesia yang belum terjamah. Akan menjadi potensi dan peluang besar bagi para pegiat sastra untuk meneliti dan mengelaborasi hal ini lebih jauh.

Sastra lisan mengandung banyak sekali nilai luhur, baik secarai moral, spiritual, budi pekerti, dan pendidikan karakter. Sastra lisan hadir dengan ciri khas yang menjadi eksistensi dan keunikan tersendiri bagi masyarakatnya. Hal ini yang menjadikan masyarakat memiliki identitas yang kuat.

Lebih lanjut, guru besar UM, Maryaeni, menegaskan, sastra lisan harus mengalami perjalanan yang dinamis agar bisa berdaptasi dengan era global. Revitalisasi adalah salah satu cara mempertahankan eksistensi sastra lisan di Indonesia.

Selain konservasi, modernisasi juga menjadi salah satu tujuan bagi sastra lisan di era mendatang. Semua bergantung pada bagaimana upaya masyarakat melestarikan budaya lokal lisan di daerahnya dalam wujud yang bisa diterima dan dinikmati oleh masyarakat.

“Saya sepakat. Oleh karena itu, masyarakat harus berpikir sekreatif mungkin dalam mengangkat dan menggali lagi potensi sastra lisan ini. Masyarakat perlu terjun ke dalam industri kreatif dan membuat perubahan yang lebih lokal, orisinil, dan berkarakter,” tambah Novi Anggraeni, salah satu pembicara kunci dalam seminar tersebut.

Seminar ini juga menghadirkan beberapa pertunjukan seni khas Indonesia, di antaranya Tari Gandrung Banyuwangi yang diperagakan oleh mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia UM, penampilan Wayang Suluk, Wayang Golek, dan Prosesi Ikrar Kajat dengan pembacaan tembang macapat oleh Mbah Ngari, sesepuh Desa Gondowangi, Wagir.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help