Surya/

Reportase dari Thailand

Cublak-cublak Suweng Jurus PDKT Pengajaran Bahasa Indonesia di Thailand

bukan perkara mudah mengajarkan bahasa Indonesia di Thailand, karena guru harus super kreatif memanfaatkan media pembelajaran ...

Cublak-cublak Suweng Jurus PDKT Pengajaran Bahasa Indonesia di Thailand
istimewa
ilustrasi 

Reportase Sahrul Romadhon
Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Thailand

 

TERHITUNG dari awal September sampai akhir tahun 2017 nanti penulis menjalankan tugas negara mengajar bahasa Indonesia di Thailand Selatan, tepatnya di Provinsi Satun lewat program yang digagas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan pelaksana tugas Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK).

Program ini dilakukan untuk mengembangkan bahasa Indonesia ke ranah internasional dengan cara mengajarkan bahasa Indonesia di lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah pemerintah setempat, sekolah swasta, dan universitas.

Provinsi Satun yang terletak di Thailand Selatan ini menjadi sasaran penyebaran bahasa Indonesia. Satu dari empat provinsi, yaitu Yala, Naratiwat, dan Pattani. Keempat provinsi ini menjadi lumbung pembelajar bahasa Indonesia sehingga bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran khusus yang diajarkan di sekolah. Merujuk dari fenomena tersebut, kebutuhan akan pengajar bahasa Indonesia sangat diperlukan untuk memenuhi permintaan sekolah-sekolah penyelenggara bahasa Indonesia.

Akan tetapi, kesempatan besar ini bukan tanpa masalah karena di lapangan terjadi tumpang tindih dengan bahasa melayu. Bahasa melayu yang memiliki keedentikan dengan bahasa Indonesia telah mendarah daging sebagai bahasa kedua setelah bahasa Thai (bahasa Siam) sehingga sangat memengaruhi produksi bahasa yang disampaikan.

Selain itu, kuatnya pengajaran bahasa Inggris yang telah menjadi bagian bahasa dunia juga menjadi tantangan tersendiri bagi pengajar di wilayah ini.

Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan antara lain pertama, pendekatan budaya. Pendekatan budaya adalah cara paling efektif untuk menarik perhatian para pembelajar bahasa Indonesia. Setiap pengajar wajib mempertontonkan budaya khas Indonesia, misalnya memakai batik ketika mengajar. Hal ini terbukti ampuh sebagai pemberi kesan awal kepada pembelajar.

Kedua, pendekatan melalui cara mengajar.  Sistem full day school yang diterapkan di sini menjadi momok bagi pembelajar karena tuntutan untuk berkonsentrasi dari pagi hingga sore hari sehingga membutuhkan metode pembelajaran yang kreatif.

Penggabungan antara permainan-permainan tradisional Indonesia dengan materi bahasa Indonesia menjadi hal yang selalu ditunggu siswa.  Misalnya permainan cublak-cublak suweng sebagai sarana mengajar abjad bahasa Indonesia.

Terakhir pendekatan kepribadian dengan cara menunjukkan keramahan dengan guru lain dan masyarakat sekitar sebagai jalan untuk memahami budaya sekitar sekaligus mengenalkan contoh identitas masyarakat Indonesia.

Tidak mudah memang, namun jika negara telah memanggil setiap warga negara akan memberikan yang terbaik untuk negara tersebut. Semangat mengajar, semangat menyuarakan bahasa Indonesia!

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help