Surya/

Citizen Reporter

Maspati, Lawas tapi Membekas

kediaman Raden Sumomiharjo, ndoro mantri yang membantu menyembuhkan penyakit warga hingga makam moyang Sawunggaling tersisa di Maspati

Maspati, Lawas tapi Membekas
imam nugroho/citizen reporter
Pojok Kampung Lawas Maspati Surabaya 

Reportase Imam Nugroho
Pegiat Literasi/karyawan swasta di Surabaya/Pehobi fotografi

BOLEH dibilang ketersediaan bangunan dan kawasan cagar budaya di Kota Surabaya lumayan banyak, seperti: bekas pabrik bir di Jalan Ratna, rumah kelahiran Bung Karno di Jalan Pandean Gang IV/40, museum House of Sampoerna, kawasan religi Ampel, rumah HOS Tjokroaminto di Jalan Peneleh VII/29-31, dan banyak lagi tempat bersejarah lainnya yang patut dikunjungi.

Penerapan program destinasi wisata sejarah Kota Surabaya, misalnya, adalah realitas yang menarik diduplikasi oleh daerah lain di Jawa Timur. Hal ini cukup beralasan mengingat cara ini bisa membangun rasa kepedulian masyarakat kota terhadap tempat-tempat bersejarah, serta menjadikannya sebagai sarana edukasi yang dikemas dalam bentuk wisata kota.

Salah satunya adalah kampung lawas Maspati (KLM). Lokasinya bisa di temui dengan mudah ketika melewati Jalan Bubutan. Sekilas tidak ada yang dominan dari kampung di mana dulunya merupakan kawasan keraton di abad ke-16. Masuk ke dalam kampung yang memiliki enam rukun tetangga ini saya dikenai tarif lima ribu rupiah. “Lho, kok mbayar?”

Dari keterangan Pak Sabar, Ketua RW 08 di sana, dengan menjual jasa wisata di kampungnya ada dua hal yang bakal terjadi. Pertama, eksistensi bangunan lawas tetap terjaga dengan baik, dan kedua, berbagai hasil produk olahan warga KLM  pun juga akan laris.

Sejak tahun 2015, kampung yang berdekatan dengan Monumen Tugu Pahlawan Surabaya ini ditetapkan Pemkot Surabaya sebagai kawasan cagar budaya. Gaya arsitek rumah yang dibangun pada tahun 1907 masih bisa saya saksikan di sana.

Juga, bangunan sekolah Ongko Loro yang didirikan untuk memberantas buta huruf, dan kediaman Raden Sumomiharjo, ndoro mantri yang sering membantu menyembuhkan penyakit, serta keberadaan makam kakek dan nenek pahlawan Surabaya Sawunggaling, Raden Karyo Sentono dan Mbah Buyut Suruh.

Menggarisbawahi cerita tersebut, banyak manfaat yang saya dapat dari Pak Sabar terkait awal kemunculan wisata berbasis masyarakat KLM. Usaha pria lulusan aliyah ini ternyata mampu membawa perubahan bagi lingkungan tempatnya berpijak. Belajar dari sini, menumbuhkan sikap arif terhadap lingkungan adalah cara jitu agar nilai-nilai historis dari wilayah tersebut tetap terawat baik. Jadi, meski kampung ini lawas namun eksistensinya sampai kapan pun akan tetap membekas untuk diingat. Ingat itu!

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help