Surya/

Citizen Reporter

Awas Mading Panas Rek!

lewat mading 3 dimensi peserta dan massa lebih paham mengenai tema dan pesan yang disodorkan agar ikut menjaga kelestarian lingkungan ...

Awas Mading Panas Rek!
luvy putri larasati/citizen reporter
Katakan lewat mading 3 dimensi 

Reportase Luvy Putri Larasati
Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

 

SURABAYA panas rek! Jangan salah paham dulu dengan akronim ini. Walau memang panas, Surabaya panas rek ini bukan mengacu pada suhu udara di Surabaya, namun, kepanjangan dari Pentingnya Menjaga Alam Surabaya karya Elisabeth Ayu Permatasari, Anissatus Sholikhah, Puji Wijayanti dan Ayu Rhisma. Ketiganya mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang berkreasi lewat majalah dinding (mading) tiga dimensi.

Mading Panas ini dipamerkan dalam mata kuliah Jurnalistik yang digelar di Kanopi, JBSI Unesa, Senin (16/10/2017). Banyak akronim-akronim unik berhamburan menghiasi mading tiga dimensi, sehingga banyak relawan yang hadir dan tertarik membaca,  bahkan tak segan berfoto dengan mading panas.

Mading bertema wisata itu mengangkat isu-isu wisata yang ada di Surabaya, seperti Kenjeran, Kebun Bibit, hutan bambu, Kebun Binatang Surabaya, dan hutan Mangrove. Pembuat mading mengaku hanya memiliki waktu lima hari mewujudkan ide mading. Di rubrik utama berita mereka isi dengan bagaimana menjaga wisata alam di Surabaya dan ajakan melestarikan  wisata alam agar tetap terjaga keindahannya.

Di sisi lain berita, diisi dengan berita keindahan-keindahan wisata yang terus mengalami perkembangan sehingga menarik wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung ke Surabaya. Bukan perkara mudah membuat mading panas itu. Elisabeth, menyebut banyak kendala yang muncul dari pembagian waktu dan anggota yang sibuk dengan urusan masing-masing. Namun, dengan kerjasama tim yang baik, semua dapat teratasi.

Hal yang menarik dan menjadi daya pikat dari mading panas ini selain singkatan yang unik dan khas Surabaya, ada replika hutan bambu yang dibuat dari batang bambu kecil berwarna cokelat. Lucunya, bambu kecil yang digunakan adalah batang bambu yang diambil dari pohon bambu di parkiran kampus.

Menurut mereka, semua itu dibuat sepenuh hati dengan tujuan, agar banyak yang tertarik dengan mading ini, sehingga tergerak hatinya untuk menjaga kelestarian alam saat berwisata di manapun itu, ungkap Ayu Rhisma (20).

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help