Press Release

Kenaikan Cukai Rokok Masih Menguntungkan Bagi Produsen Rokok Besar

Pemerintah juga mengatur harga jual rokok merk baru harus sama atau lebih tinggi dari merk yang telah beredar oleh pabrikan yang sama.

Kenaikan Cukai Rokok Masih Menguntungkan Bagi Produsen Rokok Besar
pixabay
Ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pemerintah melalui peraturan menteri keuangan baru saja merilis aturan baru mengenai kenaikan cukai rokok yang akan mulai diberlakukan pada awal tahun depan.

Kalau biasanya kenaikan cukai rokok membuat produsen rokok menjerit karena bakal menggerus perolehan laba mereka, namun hal tersebut tampaknya tidak akan dialami para pemain besar seperti Sampoerna dan Gudang Garam.

Pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 telah memutuskan kenaikan cukai rokok sebesar 10,04 persen serta mengeluarkan beberapa aturan lainnya seperti minimum harga jual eceran yang dikenakan kepada konsumen hanya bisa diberi diskon paling besar 15 persen dari harga yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Pemerintah juga mengatur harga jual rokok merk baru harus sama atau lebih tinggi dari merk yang telah beredar oleh pabrikan yang sama.

Selain mengatur besaran harga, pemerintah juga mulai menyederhanakan tingkatan cukai rokok dari yang saat ini ada 12, menjadi 10 tier pada tahun depan dan berangsur akan diturunkan menjadi 5 tingkatan pada 2021.

Hal ini dimaksudkan untuk mengatur supaya produksi rokok yang ada di Indonesia semakin seragam.

Menurut PT Bahana Sekuritas kenaikan cukai rokok dan aturan baru yang dikeluarkan pemerintah akan menguntungkan para pemain besar di industri rokok seperti PT HM Sampoerna dan juga PT Gudang Garam, sedangkan para pemain kecil terpaksa harus melakukan konsolidasi atau bahkan terpaksa gulung tikar karena tidak mampu berkompetisi.

Produksi rokok secara nasional pada 2018, diperkirakan akan turun sebesar 2 persen dari perkiraan tahun ini sebesar 305 miliar batang menjadi sekitar 297 miliar pada 2018.

Dalam aturan yang baru dirilis, pemerintah menaikkan cukai rokok untuk tier sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 11,3 persen dari Rp 530/batang menjadi Rp 590/batang, untuk sigaret kretek tangan (SKT) naik sebesar 5,8 persen dari Rp 345/batang menjadi Rp 365/batang, sedangkan tarif cukai untuk kelas sigaret putih mesin (SPM) naik sebesar 12,6 persen dari Rp 555/batang menjadi Rp 625/batang.

''Dengan kenaikan cukai rokok ini, secara tidak langsung menyebabkan harga rokok naik dan pada akhirnya membuat orang mengurangi konsumsi rokok, namun tidak akan menggerus pangsa pasar pemain besar seperti Sampoerna dan Gudang Garam,'' kata Analis Bahana Michael Setjoadi.

Halaman
123
Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved