Surya/

Citizen Reporter

3 Alasan Mengapa Harus Mengunjungi Pantai 3 Warna Ini

dari banyak pantai yang ada di Indonesia, pantai tiga warna di Malang selatan ini memiliki nilai lebih sekaligus cara pandang baru menikmati pantai

3 Alasan Mengapa Harus Mengunjungi Pantai 3 Warna Ini
istimewa/maripiknik
Pantai tiga warna di Malang selatan 

Reportase Wawan Eko Yulianto
Dosen Sastra Inggris Universitas Ma Chung Malang

 

PANTAI tiga warna, objek wisata alam di Malang selatan ini pantas mendapat label wajib dikunjungi. Bukan sekadar karena objek ini kekinian dan layak-selfie semata.

Setidaknya ada lima hal hebat yang sebagian tak ditemukan di Indonesia. Klaim ini berdasar hasil kunjungan saya ke pantai tiga warna, belum lama ini. Plus, informasi dari acara Bincang Alam di P-WEC, balai edukasi konservasi di Dau, Kabupaten Malang, 15 Oktober 2017 lalu.

Lebih dari sekadar urusan berwisata, mengunjungi pantai tiga warna bisa menjadi pengalaman yang akan mengubah cara pandang kita terhadap wisata alam.

Kepedulian. Objek wisata alam ini muncul kembali berkat kepedulian warga setempat yang ingin mengatasi kerusakan alam. Awal tahun 2000-an hutan pantai selatan di kawasan ini rusak karena eksploitasi, warga berinisiatif memperbaikinya.

Berkat pendampingan beberapa pihak dan kedisiplinan warga setempat, kondisi alam di pantai tiga warna mulai bisa dipulihkan.

Komitmen kebersihan. Pengelola objek ini berkomitmen memastikan kebersihannya. Begitu memasuki kawasan wisata, pengunjung harus melewati pos pemeriksaan isi tas dan potensi sampah.

Berapa botol air minum kemasan, tisu basah, tas plastik, masker hidung, dan sebagainya, yang dibawa pengunjung semuanya dicatat. Nanti, saat meninggalkan lokasi, pengunjung harus kembali membawa barang-barang tersebut keluar. Kalau tidak, silakan pilih: kembali ke pantai dan mengambil sampah itu atau bayar denda Rp 100.000.

Park interpreter. Pengunjung harus ditemani pemandu dalam perjalanan dari pintu masuk hingga ke pantai tiga warna. Setiap 10 orang harus disertai satu pemandu.

Kelompok saya dulu dipandu Pak Pi’i dan Mas Cepi. Pak Pi’i menceritakan riwayat pengembangan objek wisata alam ini dan upaya pemulihan alam yang telah ditempuh. Di kancah internasional, para pemandu ini disebut park interpreter, yang bertugas menceritakan semua elemen, sejarah, dan kekhasan objek wisata. Hasilnya, pengunjung dapat menghargai taman wisata ini lebih dari sekadar keindahan fisiknya.

Pembatasan. Pengelola membatasi jumlah pengunjung yang bisa berada di pantai tiga warna dalam satu waktu sekaligus. Hanya boleh ada 100 orang dalam satu waktu (dua jam). Selama dua jam itu, pengunjung bisa menyewa pelampung dan alat snorkeling untuk melihat kecantikan terumbu karang dan ikan warna-warninya, satu hal yang langka di Jawa Timur.

Banyak lagi yang bisa dituliskan tentang pantai tiga warna ini. Sila kunjungi dan saksikan bagaimana objek wisata alam ini dikelola dengan disiplin dan rasa cinta.

Menurut Agus Wiyono, kepala East Java Ecotourism Forum saat Bincang Alam, belum ada yang menyamai pengelolaan pantai tiga warna ini di Indonesia.

Jadi, pergilah ke sana, bukan hanya untuk selfie, tapi juga melihat harapan cerah dalam pengelolaan wisata alam di Indonesia yang bisa ditiru. Inilah yang wajib diviralkan.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help