Surya/

Berita Pendidikan Surabaya

Si-Akad, Kartu Mengedukasi terkait Perbankan Syariah, Tujuan Utamanya ternyata seperti ini

Keuangan Syariah mungkin bukan hal baru bagi masyarakat, tetapi bagi anak-anak ini masih cukup jarang diketahui.

Si-Akad, Kartu Mengedukasi terkait Perbankan Syariah, Tujuan Utamanya ternyata  seperti ini
surya/habibur rohman
EDUKASI SYARIAH - Siswa SD mencoba beberapa permainan Edukasi Keuangan Syariah di Kampus UMSurabaya, Kamis (2/11/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Keuangan Syariah mungkin bukan hal baru bagi masyarakat, tetapi bagi anak-anak ini masih cukup jarang diketahui.

Angka literasi keuangan ini masih berada di angka 8,11 persen, sementara literasi keuangan nasional sudah berada di angka 29,66 persen.

Padahal, penggunaan jasa penyimpanan keuangan syariah seperti bank memiliki keuntungan dibandingan bank konvensional.

Salah satunya tiada bunga pada proses pinjam-meminjam uang. Untuk mengedukasi masyarakat tentang bank syariah, tujuh mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya jurusan perbankan syariah fakultas agama Islam membuat kartu Si-Akad.

Tujuh mahasiswa tersebut, antara lain Amirrudin, Kholifatu Azqiya, Febriyanti , Fidiyawati, Elly Nur , Laily Nur , dan Nilna Alfiani .

"Kartu Si-Akad dibuat untuk mengenalkan perjanjian-perjanjian yang ada di bank syariah," kata Amirrudin di sela acara memomulerkan keuangan syariah, Kamis (2/11/2017).

Dia melanjutkan, akad atau perjanjian di bank syariah cukup banyak. Sayangnya belum semua masyarakat tahu bentuk perjanjian itu. Diperlukan edukasi yang masif agar masyarakat lebih mengenal.

Si-Akad dibuat 10 lembar. Tiap kartu berisikan gambar, sementara sisi lainnya berupa penjelasan gambar. Jumlahnya ini menyesuaikan dengan akad yang ada di bank syariah.

Amirrudin mencontohkan beberapa bentuk akad, pertama murabahah. Akad ini berupa perjanjian jual beli antara bank dengan nasabah.

Bank syariah membeli barang yang diperlukan nasabah kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan.

Ada lagi akad salam. Akad ini berupa transaksi jual beli di mana barang yang diperjualbelikan belum ada, oleh karena itu barang diserahkan secara tangguh sedangkan pembayaran dilakukan tunai.

"Ada lagi akad zakat, menabung, mudharabah, istishna', dan lain-lain," terang mahasiswa semester lima ini.

Kholifatu Azqiya menambahkan, cara memainkan Si-Akad cukup mudah. Pertama kartu dikocok, selanjutnya mengambil salah satu kartu. Kartu yang diambil ini kemudian dijelaskan kepada para pemain.

"Permainan ini ditujukkan kepada anak usia SD. Tujuannya mengedukasi perbankan syariah sejak dini dan mereka tahu perbedaan bank konvensional dengan bank syariah," jelasnya.

Dalam membuat Si-Akad, kendala yang ditemui adalah menyesuaikan keterangan dengan gambar. Kholifa mengaku, kartu ini baru tahap uji coba dan masih dikaji apakah masih relevan dengan kondisi sekarang atau tidak. "Yang jelas saat diuji cobakan ke siswa SD tadi, mereka cukup antusias," tandasnya

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help