Surya/

Lifestyle

Perajin Batik Klampar Banyak Beralih Profesi, Upaya Penyelamatan ini Dilakukan Desainer Embran

Motif batik khas Kampung Klampar ini semula hanya berupa gambar lampu, daun, dan bunga rumput. Warnanya pun masih khas batik Madura.

Perajin Batik Klampar Banyak Beralih Profesi, Upaya Penyelamatan ini Dilakukan Desainer Embran
surya/achmad zaimul haq
Padu padan batik klampar. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Batik bagi desainer Embran Nawawi punya makna lebih dari sekadar sebuah bahan untuk busana. Batik yang dia kreasi menjadi sebuah baju pasti punya cerita sehingga bisa ‘hidup’ ketika digunakan.

Semangat itu pula yang mendorong Embran saat menghadirkan batik bertema Miracle. Batik buatan para perajin yang tinggal di Desa Klampar, Pamekasan ini nyaris punah karena masyarakatnya sudah banyak yang beralih profesi jadi petani, buruh, pedagang, dan peternak.

Namun, tangan dingin Embran berhasil menyelamatkan kehidupan para perajin batik di daerah tersebut. Desainer asal Betawi ini memberi ‘warna’ pada batik Kampung Klampar sehingga lebih bervariasi.

Hasilnya, kehidupan perajin batik setempat kembali menggeliat. “Tahun 2012 saya sudah aktif pakai batik Kampung Klampar, dan setahun berikutnya saya bikin motif-motif baru yang berbeda dari yang sudah ada,” katanya.

Motif batik khas Kampung Klampar ini semula hanya berupa gambar lampu, daun, dan bunga rumput. Warnanya pun masih khas batik Madura, yaitu oranye, kuning, biru, serta cokelat.

Embran lalu memberi vari motif, seperti mawar, tengkorak. Batik Kampung Klampar ini kemudian dia bawa pameran ke luar negeri, seperti Laos, Bangkok dan Vietnam. “Berkat batik ini pula, saya yang masuk Laos pada tahun 2015 hanya guest desainer, kemudian tahun 2017 ini diminta menjadi host,” tandas Embran.

Sebagai upaya menyelamatkan batik Kampung Klampar itu kemudian menghiasi busana seluruh karyawan Miracle. Aesthetic Clinic. Embran memasang bintang yang ada di dada ksatria Gatotkaca untuk batik tema Miracle ini.

“Filosofi tulang kawat balung wesi saya transformasikan jadi semangat Batik Miracle ini. Selain itu masih saya tambahkan bintang-bintang di beberapa sudut kainnya,” ucap Embran.

Menurut Embran, batik cap Kampung Klampar ini menggunakan teknik sederhana yang banyak digunakan perajin lokal yang biasa disebut dengan batik santio. Pembuatan batik ini biasa dikerjakan oleh masyarakat lokal untuk mengisi waktu luang sambil menunggu masa panen.

Penulis: Achmad Pramudito
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help