Surya/

Reportase dari Mesir

Surat untuk Sungai Nil

sungai Nil surut dan mengering saat tak ada perawan jelita yang bisa ditenggelamkan di sana.. surat Khalifah Umar bin Khatab mengakhiri semua itu

Surat untuk Sungai Nil
pixabay.com
Sungai nil di Mesir 

Reportase Muhammad Sidqi
Staf redaksi buletin El-Asyi KMA Mesir/Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo

Dengan nama Allah, maha pengasih, maha penyayang. Dari hamba Allah, Umar, Amirul Mukminin kepada Nil Mesir. Wahai Nil Mesir, apabila kamu mengalir karena dirimu dan karena keinginanmu, maka janganlah kamu mengalir lagi, karena kami tidak memerlukan kamu. Namun, apabila kamu mengalir karena perintah dan ketentuan Allah yang tunggal dan maha gagah, dan memang Dialah yang telah mengalirkan kamu, kami memohon kepada Allah untuk mengalirkan kamu kembali...

DAN pekan lalu kami, mahasiswa Indonesia yang kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo, berjalan-jalan di seputaran Sungai Nil, sungai terpanjang di dunia. Menukil data dari Wikipedia, sungai Nil mengalir sepanjang 6.650 km atau 4.132 mil dengan membelah  sembilan negara, yakni Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan, dan Mesir.

Sungai Nil berpengaruh besar dalam sejarah bangsa Mesir, terutama Mesir kuno. Sungai ini masyhur sebagai sumber peradaban bangsa.

Nil mempunyai daya tarik lebih di mata para wisatawan saat bermandi warna-warni lampu di malam hari, sehingga menambah keeksotisannya dan memanjakan mata pengunjung. Pesona ini yang menjadikan mereka tidak akan pernah bosan untuk berlama-lama menatap Nil.

Di sisi lain sungai Nil menyimpan banyak cerita di masa lalu. Sebuah cerita unik dan menarik mengenai sungai Nil yang dicatat para sejarawan adalah surat seorang khalifah yang ditujukan kepada sungai Nil.

Kisah ini sangat masyhur dan ditulis oleh hampir seluruh sejarawan, termasuk sejarawan dan mufasir ternama Ibnu Katsir, sebagaimana termaktub dalam bukunya Al Bidayah wan Nihayah pada pembahasan Fath Mashr atau penundukkan Kota Mesir.

Kisah ini berawal tak lama setelah Amr bin Ash menyebarkan Islam ke Mesir, air Sungai Nil mendadak surut dan kering. Masyarakat Mesir saat itu berkata, “Nil memang biasa demikian, ketika airnya berkurang atau kering, biasanya kami mencari seorang gadis jelita, meminta izin kepada orangtuanya untuk dihiasi, didandani dan dipercantik, kemudian ditenggelamkan di sungai Nil. Tak lama setelahnya sungai Nil kembali bertambah airnya.”

Amr bin Ash menjawab bila Islam melarang perbuatan nista semacam itu. Beberapa hari lamanya sungai Nil masih surut dan kering.

 Kemudian Amr bin Ash berkirim surat ke Khalifah Umar bin Khatab di Madinah untuk mengabarkan apa yang sedang terjadi di Mesir. Dan, Umar bin Khatab membalas dan mengabarkan bila ia telah menulis sepucuk surat untuk sungai Nil dan meminta Amr bin Ash bila surat itu tiba agar segera melemparkan ke dalam sungai Nil.

Sesuai permintaan Khalifah Umar, surat itupun segera dibenamkan ke dalam sungai Nil. Maka, air sungai Nil kembali membanjir, bahkan hingga detik ini.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help