Surya/

Dwi Hartanto 'The Next Habibie' Ternyata Berasal Dari Madiun. Ini Cerita Ibunya

Dwi Hartanto, mahasiswa doctoral di Technische Universiteit (TU) Delft yang belakangan bikin heboh, ternyata berasal dari Madiun.

Dwi Hartanto 'The Next Habibie' Ternyata Berasal Dari Madiun. Ini Cerita Ibunya
surabaya.tribunnews.com/rahadian bagus
Ibunda Dwi Hartanto saat ditemui di kediamannya di Madiun, Rabu (11/10). 

SURYA.co.id|MADIUN - Dwi Hartanto, mahasiswa doctoral di Technische Universiteit (TU) Delft yang belakangan ini bikin heboh karena serangkaian kebohongannya, ternyata berasal dari Madiun. 

Pria yang lahir pada 13 Maret 1983 ini besar di rumah otangtuanya di RT 6 / RW 1 Dusun Santan, Desa Wonorejo, Kecamatan Wonorejo, Kabupaten Madiun.

Dwi Hartanto merupakan anak kedua dari dua bersaudara yang lahir dari pasangan Sulastri (55) dan almarhum Saryo Kamdani (65).

Orangtuanya hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat sekolah dasar (SD).

Sementara almarhum ayahnya, semasa hidup bekerja sebagai buruh tani, sedangkan ibunya dulu membuka warung makan di rumah.

(Baca: Sejak Kecil, Dwi Hartanto Selalu Mendapat Rangking di Kelas)

Dwi mengenyam pendidikan sekolah dasar di SD Warurejo, setelah itu kemudian melanjutkan di SMP 1 Mejayan.

Setelah lulus SMP, Dwi melanjutkan sekolah di SMKN 1 Mejayan jurusan elektronika.

"Dari sejak kecil hingga lulus STM di sini. Setelah itu kuliah di Jogja," kata Sulastri saat ditemui di rumahnya, Rabu (11/9/2017) siang.

(Baca: 5 Fakta Mencengangkan Sosok Dwi Hartanto di Mata Keluarga, Nomor 4 dan 5 Bikin Meleleh)

Sulastri menuturkan, setelah lulus dari SMKN 1 Mejayan, putranya melanjutkan kuliah Institut Sains dan Teknologi (IST) Akprind, di Fakuktas Teknik Informatika. Dwi lulus pada tahun 2005.

"Setelah lulus, kerja jadi asisten dosen selama setahun. Kemudian pada 2007 melanjutkan kuliah di Belanda," katanya.

Sulasti menuturkan, saat ini Dwi memiliki rumah di Jogja di daerah Condongcatur, Sleman. 

(Baca: Cerita Ibunda Dwi Hartanto Soal Kebohongan Anaknya yang Bikin Heboh)

Penulis: Rahadian Bagus
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help