Surya/

Citizen Reporter

Kizuna Project 10 Hari Lebih Dekat dengan Jepang

membincangkan Jepang senantiasa menarik, dari sisi manapun.. bahkan menyoal gempa dan tsunami sekalipun Jepang tetap unik ..

Kizuna Project 10 Hari Lebih Dekat dengan Jepang
pixabay.com
ilustrasi 

Reportase Widya Noventari MSc
Dosen Universitas Wisnuwardhana Malang

KIZUNA PROJECT, program yang diadakan pemerintah Jepang ini mengajak anak muda untuk mengenal lebih dekat budaya, tradisi, masyarakat, dan teknologi negeri sakura ini.

Nah, selama 10 hari di Jepang mengikuti Kizuna Project, banyak hal menarik yang dipelajari, salah satunya kultur disiplin masyarakat Jepang. Kizuna sendiri berarti mempererat, diharapkan mempererat hubungan internasional Jepang-Indonesia.

Menurut Heni Masruroh, dosen di Universitas Wisnuwardhana Malang yang menjadi peserta Kizuna Project, program ini untuk memulihkan nama baik Jepang pasca gempa dan tsunami.

Selain itu proyek ini digagas untuk mendulang informasi akurat tentang revitalisasi negara Jepang pasca gempa dan tsunami. Hal itu penting karena Indonesia juga sering disambangi tsunami, jadi banyak pelajaran yang bisa dipetik.

Jepang diguncang gempa berkekuatan 9 SR pada 11 Maret 2011 pukul 14.44 waktu setempat. Kekuatan gempa ini peringkat keempat terbesar setelah gempa Aceh 26 Desember 2004 (Yoshichika, 2013).

Luasan wilayah Jepang sebelah timur yang terkena gempa dan tsunami mempunyai panjang 450 km dan lebar 200 km dengan batasan utara: prefektur Miyagi, selatan dan tengah: prefektur Fukushima, bagian barat: prefektur Chiba.

Peserta Kizuna Project juga diajak langsung ke daerah yang terguncang gempa, melihat langsung keadaan korban dan daerah yang terpapar gempa dan tsunami.

Akrab dengan gempa menjadikan konstruksi rumah di Jepang menggunakan bahan kayu ringan namun kuat untuk rumah antigempa. Konstruksi kayu dianggap lebih aman daripada konstruksi beton.

Selain rumah antigempa, Jepang juga memiliki desain rumah ramah lingkungan atau eco house menggunakan tenaga surya untuk energi pembangkit listrik di dalam rumah. Energi matahari diserap panel surya yang dipasang di atap, disimpan di baterai dan diolah menjadi listrik oleh power supply.

Ini menjadi konsep pemikiran yang sangat menarik ketika isu-isu tentang pemanasan global gencar disuarakan. Menurut Heni, konsep eco house mampu menjadi solusi atas pemanasan global, apalagi bila mampu diterapkan di Indonesia yang notabene negara tropis yang paparan sinar matahari.  

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help