Surya/

Sambang Kampung

Digagas sejak 1981, kini Tiap Pemilik Mobil di Demak Timur harus Punya Garasi

Di kawasan ini tidak terlihat mobil yang terparkir di sepanjang jalan, bahkan di gang-gang lebar wilayah Demak Timur ini.

Digagas sejak 1981, kini Tiap Pemilik Mobil di Demak Timur harus Punya Garasi
surya/achmad zaimul haq
GARASI MOBIL - Suasana jalan kampung Demak Timur gang II, RT 02 RW 06 Surabaya yang lebar karena warga menerapkan peraturan khusus, yaitu setiap warga yang memiliki mobil wajib memiliki garasi. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Memiliki mobil menjadi hal yang wajar bagi warga Kota Surabaya. Sayangnya, kepemilikan mobil seringkali tidak bersamaan dengan adanya komitmen memiliki tempat penyimpanan mobil di rumah atau garasi. Bahkan Pemerintah Kota Surabaya saat ini sedang mengatur peraturan daerah yang mewajibkan pemilik mobil juga memiliki garasi.

Tetpi hal berbeda terlihat di kampung Demak Timur, khususnya di RT 2 RW 6 Kelurahan Gundih, Kecamatan Bubutan.

Di kawasan ini tidak terlihat mobil yang terparkir di sepanjang jalan, bahkan di gang-gang lebar wilayah Demak Timur ini. Berbagai rambu larangan parkir juga terpajang di sepanjang
jalan.

Hal ini karena sejak Februari 2017, warga kampung berkomitmen merapikan kampugnya dari parkir mobil sembarangan.

Sudjarwoko, ketua RT 2 RW 6 mengungkapkan banyak warga sekitar yang juga komplain adanya mobil di gang umum yang terparkir. Hal ini menyulitkan pengendara lain yang mau lewat.

“Garasi itu idenya sejak 1981 pengurus RT saat itu sudah berinisiatif, untuk keamanan kalau punya mobil dimasukkan rumah. Tapi dulu yang punya mobil satu sampai 2 orang saja, kemudian tambah banyak yang punya mobil. Setiap tahun kami perbarui aturannya, hingga benar-benar disepkati pada 2017 ini,”
ungkapnya pada SURYA.co.id, Senin (9/10/2017).

Memang bukan hal kecil yang harus dikorbankan warga di kawsan ini. Mereka harus merombak garasi miliknya agar muat dimasuki mobil yang selama ini mereka letakkan di luar rumah.

Warga harus merelakan teras yang biasanya untuk bersantai sebgai tempat rumah, bahkan melepas pintu pagar rumahnya agar mobil bisa masuk.

“Kalau nggak punya garasi kami minta parkir di luar, ada penitipan yang sebulan Rp 400.000, tetapi kami juga sudah minta izin pakai lahan kosong milik swasta di dekat sini untuk digunakan parkir,” lanjutnya.

Bapak dua anak ini menambahkan, dirinya dan warga sekitar tak ingin banyaknya mobil yang diparkir di depan rumah menjadi penghalang jika ada kejadian darurat seperti kebakaran atau ada warga yang harus dilarikan ke rumah sakit.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help