Surya/

Citizen Reporter

C20 Perpustakaan Rasa Rumah Pribadi

di sini di Perpustakaan C20 Surabaya tersedia surga yang menjadi oase menenangkan bagi penikmat literasi ...

C20 Perpustakaan Rasa Rumah Pribadi
binti quryatul masruroh/citizen reporter
Sebuah sudut di perpustakaan C20 Surabaya 

Reportase Binti Q Masruroh
Alumnus Sastra Indonesia, Universitas Airlangga

SEJAK di bangku kuliah, apalagi masuk jurusan sastra, hobi membaca saya kian menjadi-jadi. Sebagai anak rantau, saya belum menemukan tempat pas untuk melampiaskan hobi baca ini sampai saya menemukan C2O Library & Collabtive.

Perpustakaan rumahan di Jalan Dr Cipto 22 Surabaya ini sengaja didesain senyaman mungkin untuk para pengunjungnya. Seperti diakui Yulia, front office C2O.

Begitu masuk ke perpustakaan pengunjung disambut front office ramah yang akan melayani kebutuhan pengunjung. Di setiap sudut ruangan tak hanya diisi rak-rak berisi buku. Ada nilai artistik yang dipoleskan di sana.

Ada bunga, boneka, ukiran kayu, yang muskil ditemukan di perpustakaan pada umumnya. Meski tak dijadwalkan rutin, penataan perpustakaan ini, cukup sering diperbaruhi.

Misalnya, ketika koleksi buku bertambah dan rak-rak sudah tak cukup menampung buku yang ada.

“Tak ada jadwal khusus kapan dan berapa bulan sekali, kalau rak sudah tak cukup, ya harus ditata ulang,” ucap Yulia.

Ternyata C2O memiliki volunter di masing-masing penataan. Ada yang membantu menata buku, pustakawan yang mengatalokkan buku, hingga volunter yang menata ulang ornamen ruangan.

Berdiri tahun 2008, C20 bermodalkan sekitar tiga ribu buku. Seiring waktu, koleksi buku perpustakaan yang dikelola secara swadaya ini terus bertambah. Tak kurang dari tujuh ribu buku tersedia di C2O dengan sebagian besar bertema budaya, kajian Indonesia, desain, seni, sastra, dan sejarah.

Semua koleksi buku terbagi dalam empat label. Buku berlabel warna putih, kuning, dan oranye boleh dipinjam. Khusus buku berlabel merah muda adalah koleksi khusus yang hanya bisa dibaca di tempat.

“Label khusus karena sudah tidak terbit lagi, atau buku titipan teman yang memang tak boleh dibawa keluar,” imbuh Yulia.

Di antara buku yang tak bisa dipinjam itu memiliki kondisi yang memang akan lebih baik jika dibaca di tempat. Ada juga donatur yang menitipkan buku karena kurang bisa merawat. Sebagian buku kategori ini adalah buku bertema sejarah yang memang sudah tak diterbitkan lagi.

“Ada anggota yang bukunya bagus, tapi di rumah nggak bisa merawat, buku nganggur gak kepakai, lalu dititipkan atau didonasikan di sini,” tambah Yulia.

C2O menjadi rumah bagi siapa saja yang ingin memperluas cakrawala dengan membaca. Perpustakaan ini adalah contoh inovasi perpustakaan ramah pengunjung. Semoga C2O mampu meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia yang pernah disurvey Unesco hanya sebesar 0,001 persen.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help