Surya/

Press Release

Ponpes Tebuireng dan GMKI Sepakat Pemerintah Harus Memperhatikan Ekonomi Wong Cilik

PP Tebuireng dan GMKI sepakat bahwa pemerintah mesti memperhatikan ekonomi rakyat kecil untuk mengatasi ancaman disintegrasi.

Ponpes Tebuireng dan GMKI Sepakat Pemerintah Harus Memperhatikan Ekonomi Wong Cilik
ist
Anggota GMKI saat berkunjung ke Ponpes Tebuireng, Jombang 

SURYA.co.id | JOMBANG - Kegaduhan yang belakangan terjadi dan diwarnai oleh radikalisme serta isu Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA), merupakan salah satu dampak yang muncul dari ketimpangan sosial dan ekonomi. 

Karena itu, pemerintah perlu didorong untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian wong cilik alias rakyat kecil. 

Hal itu adalah salah satu hasil diskusi yang mengemuka saat mahasiswa Kristen yang tergabung dalam GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) berkunjung ke Ponpes Tebuireng, Jumat (5/10/2017).

"Ada kepentingan elit dan kelompok yang bermain di tengah kecemasan masyarakat yang berlebihan dan ketimpangan ekonomi. Tugas bersama baik pesantren maupun gerakan mahasiswa seperti GMKI untuk membangun ekonomi masyarakat kecil, ” ujar H. Lukman Hakim, Mudir bidang Pondok, saat menerima rombongan GMKI.

Lukman mencontohkan, salah satu gejala dari tersingkirnya perekonomian rakyat kecil adalah tergesernya warung-warung dan pasar tradisional di desa, oleh toko-toko modern. 

"Toko waralaba atau toko modern semakin menjamur hingga desa-desa kecil. Akibatnya warung dan pasar tradisional masyarakat sudah semakin sepi dan tergeser. Kami berharap pemerintah dapat mengontrol munculnya fenomena tersebut, jika tidak, konflik dan kesenjangan akan semakin tajam," lanjut H. Lukman Hakim.

Sahat Martin Philip Sinurat, Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI sepakat bahwa pemuda dan mahasiwa harus mengembangkan ekonomi kreatif sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan pada masyarakat yang terpinggirkan.

"Pemerintah juga harus membuat kebijakan yang dapat mendukung pengembangan ekonomi masyarakat ekonomi rendah. Pemerintah harus memikirkan bagaimana agar warung dan pasar tradisional dapat berkembang dan bersaing dengan toko modern, bukannya menyerahkannya pada mekanisme pasar," ujar Sahat.

Lebih jauh, dalam pertemuan itu juga sempat didiskusikan perihal pernyataan kontroversial Eggy Sudjana yang menyebut bahwa ajaran agama selain Islam tidak sesuai dengan sila pertama Pancasila.

Terkait hal tersebut, Ahmad Roziqi, salah satu ustaz di Ponpes Tebuireng menjelaskan bahwa sila pertama Pancasila berarti bahwa setiap agama memaknai Tuhan sesuai dengan ajaran agamanya masing-masing.

Halaman
12
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help