Surya/

Citizen Reporter

Jika Guru Mendadak Jadi Kru Televisi

terbiasa mengajar di depan kelas, para guru tanpa bekal broadcasting ini mendadak dilibatkan sebagai awak televisi untuk program tayangan live!

Jika Guru Mendadak Jadi Kru Televisi
tri lestiyono/citizen reporter
Wajah-wajah tegang para guru saat mendadak menjadi kru tv 

Reportase TRI LESTIYONO SPd
Peserta Diklat Keahlian Ganda Broadcasting di P4TK Seni Budaya Yogyakarta/Pengajar di SMKN 1 Bangil

APA jadinya bila guru yang selama ini mengajar di kelas, menjadi kru acara live di televisi? Tegang dan cemas pastinya. Itulah yang dirasakan 22 guru termasuk penulis, saat mengikuti Diklat Keahlian Ganda di P4TK Seni Budaya, Yogyakarta, bidang broadcasting radio dan televisi, saat ikut memproduksi acara live Dokter Menyapa di ADI TV, Yogyakarta, Senin (18/9/2017).

Mulai pukul 19.30-20.30 WIB, para guru menjalankan peran sebagai program director, floor director, kameraman, soundman, ada pula yang menjadi marcom dan switcherman.

Didampingi Chandra Setiawan, widyaiswara program director ADI TV, para kru ini bekerja sesuai pembagian tugas yang sudah ditentukan setelah sebelumnya menggelar simulasi di kelas dan mengikuti brifing dengan Master Control Room.

Selanjutnya, masing-masing personel menempati posnya. Suasana hening langsung terasa di studio saat para guru bersiap mengoperasikan alat-alat. Ada beban berat karena jika acara tak berjalan sesuai rencana, pembimbing akan mendapat teguran dari produser acara.

Maklum, para guru yang belajar broadcasting ini tak semuanya memiliki latar belakang pendidikan kepenyiaran. Wajar, jika  menjalankan program acara menjadi tugas berat.

Sebelum acara dimulai, para awak siar melakukan doa bersama dan diminta menghargai setiap detik yang berjalan.”Kekompakan dan komunikasi yang jelas antar kru sangat penting dan diperlukan untuk suksesnya program acara,” kata Chandra, sesaat sebelum acara live dimulai.

Dua menit menjelang on air, Chandra mengecek jalur komunikasi antar kru yang ketika setiap posisi disebut, langsung dijawab ”siap” oleh masing-masing personiel. Hitungan mundur dalam 20 detik pun dimulai. Pada hitungan kesepuluh, kami menghitung sama-sama.

Pada detik kelima, program director memanggil bumperman, switcherman, kameraman, FD dan VT untuk standby. Tiga detik menjelang on air, semua kru menghitung tanpa suara. Tepat pada detik kesatu, program director berseru. “Mulai!” yang direspons bumperman dengan memencet bumper-in, dan switcherman menekan autoswitch dari kamera satu. On air pun berlangsung hingga sesi satu selesai.

Tak terasa, empat sesi berhasil dilalui oleh seluruh awak siar. Ketegangan  pun mencair berganti senyum penuh syukur. Sungguh pengalaman berharga bisa menjadi bagian dari sebuah acara televisi. Ini juga menjadi bekal bagi para guru untuk menularkan ilmu kepada anak didik setelah menjalankan diklat di P4TK Seni Budaya di Yogyakarta.  

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help