Surya/

Sambang Kampung

Bidan ini Jadi Sosok di Balik Hijaunya Kawasan Penjaringan Sari Surabaya

Suasana di RW 5 kelurahan Penjaringan Sari, Surabaya, dikenal sebagai kawasan yang hijau dan asri. Namun di balik itu, ada sosok bidan ini...

Bidan ini Jadi Sosok di Balik Hijaunya Kawasan Penjaringan Sari Surabaya
surabaya.tribunnews.com/ahmad zaimul haq
Warga merawat tanaman di salah satu area tanam RW 5 kelurahan Penjaringan Sari, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Suasana sejuk dan rindang langsung terasa saat memasuki kawasan RW 5 Kelurahan Penjaringan Sari, Surabaya.

Sejak tahun 1985-an, penghuni mulai berdatangan mengisi petak-petak rumah di kawasan ini. Salah satunya yaitu Suci Rahayu (73), sosok sesepuh di kampung yang dikenal karena kepiawaiannya merawat tanaman hingga tumbuh subur

Memakai baju batik lengkap dengan jilbabnya, Suci terlihat turun dari taksi usai memeriksakan kesehatannya di Rumah Sakit Haji.

Pengalaman menjadi tenaga medis membuatnya cukup menjaga kondisinya. Hal ini terlihat saat ia menyambut SURYA, ia sangat antusias mengenalkan bermacam-macam tanaman herbal yang ditanamnya di lahan kosong seberang rumahnya.

“Sek ya (sebentar ya), ini ada yang nangis ini,” ungkapnya sambil berlari ke sumur di area taman tempatnya menanam tumbuhan herbal. Tak lama berselang ia kembali membawa penyiram tanaman dan menyiram sejumlah tanaman yang mulai layu akibat tananhnya yang kering.

“Ini kasihan mereka masih saya taruh pot, jadi kalau kering bisa mati kalau tidak disiram. Karena akar mereka nggak langsung ke tanah,” ungkapnya sambil mengecek tanaman herbal yang disiraminya.

(Baca: Taman Herbal RW 5 Penjaringan Sari Surabaya Jadi Tempat Kongkow Pensiunan di Kampung)

Suci sudah lama dikenal warga di RW 5 sebagai sosok yang aktif di berbagai kegiatan sosial. Ia juga memiliki banyak tanaman herbal bahkan mennam lahn kosong di area samping rumahnya. Lahan milik developer itu menjadi tempat penyaluran hobinya dengan menanam.

Ia mengungkapkan sejak kecil ingin sekolah di pertanian. Sayangnya biaya pendidikan yang tinggi dan adanya ikatan dinas bagi sekolah bidan, membuatnya memutuskan menjadi bidan.

Selama beberapa saat ia fokus pada kelahiran dan tumbuh kembang anak. Beberapa sanak keluarga warga kampungnya juga ditolongnya untuk melahirkan saat membuka praktek di rumah.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help