Surya/

Citizen Reporter

Akhir Pekan Journalism Liburan dari Karya Khayalan

bila selama ini mereka berkutat dengan karya sastra dan fiksi, tak heran ketika belajar reportase, sungguh menjadi selingan liburan bebas khayalan..

Akhir Pekan Journalism Liburan dari Karya Khayalan
citizen reporter dokumentasi
Journalism akhir pekan ala mahasiswa sastra Inggris Universitas Trunojoyo Madura 

Reportase Muhammad Ya’qub Effendi
Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Trunojoyo Madura

TIDAK melulu puisi, cerpen, novel, ataupun ilmu kebahasaan, mahasiswa Sastra Inggris Universitas Trunojoyo Madura (UTM) juga belajar jurnalistik.

Atas prakarsa dosen pengampu matakuliah journalism, Imron Wakhid Harits, mengundang editor rubrik Citizen Reporter Harian Surya, Tri Hatmaningsih menjadi pemateri dalam pelatihan jurnalistik, Sabtu (30/9/2017), di Graha Utama UTM.

Baru saja pelatihan dibuka, pertanyaan dari para peserta sudah menyerbu pemateri.Pelatihan di akhir pekan itu lebih menggunakan metode tanya jawab, alhasil acara berlangsung lebih aktif.

Antusiasme para peserta sungguh tinggi, terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul, membuat pemateri sama bersemangatnya.

Pelatihan tersebut diharapkan dapat membuat mahasiswa yang mengambil matakuliah journalism lebih mengerti seluk-beluk jurnalistik, juga nantinya dapat menjadi landasan pengetahuan ketika membuat berita.

Mahasiswa sastra yang identik dengan karya-karya berbau fiksi dan khayalan, tidak membuat peserta yang mayoritas semester lima kehilangan selera dalam menulis berita fakta.

Seperti yang diungkap pemateri, sejatinya menulis fiksi maupun berita hampir sama. Menulis berita harus memenuhi unsur 5W+1H. Demikian juga dalam menulis puisi, cerpen, atau karya fiksi lainnya. Hanya saja penerapan 5W+1H jauh lebih luwes dan fleksibel ketimbang dalam penulisan berita.

Menulis pun tidak perlu bakat, karena menulis bisa dilatih agar senantiasa terampil. Pemateri juga mengingatkan agar selalu memandang apapun dari sisi yang berbeda, demi mendapatkan hasil penulisan yang baru dan berbeda.

Tak sekadar menulis, peserta juga mendapat trik menembus media, jurus 'menggoda' editor rubrik agar tulisan dilirik redaktur dan dimuat.

Di sesi akhir, pemateri menyisipkan pesan agar peserta tetap melatih diri menulis, karena bisa menulis tidak harus menjadi jurnalis. Terbukti, banyak tokoh sukses yang ternyata memiliki keterampilan menulis.

Pelatihan di akhir pekan itu diikuti para peserta dengan gembira, meski mengorbankan hari libur mereka. Bahkan peserta menganggap pelatihan jurnalistik hari itu sebagai cara liburan berbeda, liburan dari karya-karya khayalan.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help