Surya/

Sambang Kampung

Sempat Gagal, Tempe Produksi Warga RT2/RW II Medokan Semampir kini Jadi Pemasok Berbagai Swalayan

Aktivitas seperti ini menjadi rutinitas beberapa warga di RT2/RW 2 Kelurahan Medokan Semampir, Kecamatan Sukolilo yang bekerja di UKM Tempe Setia.

Sempat Gagal, Tempe Produksi Warga RT2/RW II Medokan Semampir kini Jadi Pemasok Berbagai Swalayan
surya/achmad zaimul haq
Aktivitas di UKM pembuatan tempe warga RT2/RW II Kelurahan Medokan Semampir Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tumpukan kedelai yang telah direbus dan dikupas terlihat dalam keranjang-keranjang besar. Enam orang di sekitar kedelai tersebut tampak sibuk dengan biji kedelai itu, mereka mengemasnya dalam bungkusan daun pisang hingga berbentuk segitiga.

Beberapa lagi mengeluarkan tempe dari bungkusan daun pisang yang mulai layu dan menggantinya dengan daun pisang yang segar. Ada juga yang sibuk dengan cetakan bambu panjang yang dilapisi plastik kemudian diisi biji kedelai.

Aktivitas seperti ini menjadi rutinitas beberapa warga di RT2/RW 2 Kelurahan Medokan Semampir, Kecamatan Sukolilo yang bekerja di UKM Tempe Setia.

Sejak tahun 2000 mereka telah bekerja untuk membuat tempe pada usaha milik Saryono (47) dan Pujiati (47).

Salah satu pekerja, Sarijah (55) mengungkapkan ikut pada usaha ini sejak awal berdiro. Yaitu sejak membuat tempe untuk dijadikan kriipik tempe hingga tempe.untuk pasokam supermarket.

“Dari pada nganggur dirumah, apalagi saya sudah mulai tua. Ya saya ikut saja membuat tempe saat tahu ada tetangga uang memulai usaha,” ungkapnya.

Dikatakannya, ia belajar membuat tempe mulai dari awal hingga kini bisa membuat 50 kilogram kedelai untuk dijadikan tempe. Ia mengklaim tempe buatan tempat kerjanya ininmurni beraih menggunakan biji kedelai tanpa campuran apapun.

“Di sini murni pakai kedelai, kalau di pasar tradisional biasanya macam-macam campurannya. Bisa jagung, kulit kedelai,” ujarnya.

Saryono menjelaskan, kualitas bahan dan proses pembuatan tempe ini bukan tanpa alasan. Sejak awal menerima pesanan dari supermarket ia sempat gagal membuat tempe selama 6 bulan.
Dikatakannya, ketika membuat tempe untuk keripik ia berinisiayif.menaqarkan produk tempe di supermarket. Gayung bersambut, iapun menerima tawaran pengiriman tempe ke supermarket.

“Waktu itu saya disuruh mengirim 8 item tempe, masing-masing 100 kemasan. Saya belajar bikin tempe di Trenggilis,tapi gagal terus,”ungkapnya.

Ia pun memasok tempe dari pasar tradisional untuk dikirim ke supermarket. Sejumlah tehiran sempat ia terima karena standar tempe yang jelek. Hingga akhirmya ia bisa membuat tempe sendiri.

“Saya tiap bikin banyak sampai 50 kilo terus nggak jadi. Yang ada bau kedeleinya, terpaksa dibuang. Ternyata saya salah pakai air sumur buat bikin tempe. Setelah saya ganti air PDAM baru tempenya jadi,” ujarnya.

Upayanya menutupi kerugian akhirnya mulai membaik. Pesanna terus bermunculan saat ia bisa menjaga kualitas tempenya. Bahkan kini pesanannya merambah berbagai swalayan antar kota.
Namun, hal ini tidka lepas dari halangan lain. Setelah 4 tahun usaha, Suyanto sempat mendapat protes warga karena limbah tempe yang dibuang ke got berbau.

“Akhirnya saya belajar IPAL juga agar bisa mengatasi limbah. Sekarang limbah yang ke got sudah bersih, saya buat penyaring sebelum masuk got warga,”ungkapnya.

Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help