Surya/

Single Focus

Siswa SMA Bermobil ke Sekolah, Kebutuhan atau Gaya Hidup- Ni Ketut Ngaku Praktis asal Tak Ngebut

Sebenarnya, jarak antara rumah Ketut dengan sekolah di SMA kompleks tidak jauh. Hanya butuh waktu 30 menit dari rumahnya di kawasan Karang Menjangan.

Siswa SMA Bermobil ke Sekolah, Kebutuhan atau Gaya Hidup- Ni Ketut Ngaku Praktis asal Tak Ngebut
surya/achmad zaimul haq
MOBIL SISWA - Ni Ketut Alit siswa kelas XI SMAN 2 menunjukkan SIM A yang merupakan syarat untuk mengemudikan mobil, Selasa (12/9/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Mengendarai kendaraan roda empat ke sekolah bukan hal tabu bagi para siswa di Surabaya.

Termasuk bagi Ni Ketut Alit. Siswa SMAN 2 ini mengaku, lebih nyaman mengendarai mobil sendiri lantaran lebih praktis dan tidak merepotkan orang tuanya.

Sebenarnya, jarak antara rumah Ketut dengan sekolah di SMA kompleks tidak jauh. Hanya butuh waktu 30 menit dari rumahnya di kawasan Karang Menjangan. Namun, dalam sehari Ketut bolak-balik sampai dua hingga tiga kali untuk berpindah tempat belajar.

"Habis pulang sekolah biasanya ada belajar kelompok, lalu les sampai malam. Sebelumnya, kemana-mana diantar jemput orang tua, sekarang jauh lebih praktis," ucap remaja kelahiran 22 November 1999 ini.

Sejak awal tahun ini, Ketut mendapat izin orang tuanya mengendarai mobil Toyota Calya untuk ke sekolah dan menjalani aktivitasnya sehari-hari.

Dengan membawa kendaraan sendiri, ia tidak perlu minta jemput orang tua saat pulang malam.
Ia mengaku, tidak hanya berbekal izin orang tua, tetapi sudah mengantongi surat izin mengemudi (SIM) A.

"Sebelumnya, aku les nyetir dulu. Lalu sebelum benar-benar dilepas untuk setir sendiri, aku dites dulu nyetir dari rumah ke sekolah tapi didampingi orang tua. Full, selama sebulan," papar siswi kelas 12 ini.

Setelah orang tuanya menganggap Ketut ‘lulus’ test drive, ia mendapat izin orang tua membawa sendiri kendaraan setiap hari.

Dari sekolah sendiri, menurut Ketut, tidak ada batasan atau larangan. Siswa dibolehkan membawa kendaraan dan diparkir di depan kawasan sekolah.Dengan biaya Rp 5.000 sekali parkir.

Ia pun mengungkapkan, kerap diberi nasihat gurunya. Tidak melanggar rambu lalu lintas dan tidak kebut-kebutan.

"Mama dan papa sering mengingatkan agar aku nggak ngebut dan tidak melanggar marka atau rambu lalu lintas," ucap bungsu empat bersaudara ini.

Bukan Gaya-gaya-an
Ia menyebut, cukup banyak teman sekelasnya membawa mobil ke sekolah. Beberapa sama seperti dirinya, yaitu tidak bisa menggunakan sepeda motor.

Selain itu, Ketut mengaku, keluarganya menganggap membawa roda dua lebih berbahaya.

Menurutnya, berkendara roda empat ke sekolah bukan gaya hidup. Apalagi, untuk gaya-gaya-an dan gengsi, melainkan memang kebutuhan daripada merepotkan orang tua.

"Kalau gaya-gaya nggak-lah. Harus tahu diri dan pandai menentukan sikap, kalau dari aku memang butuh dan disuruh orang tua bawa mobil," ucapnya. (fatimatuz zahroh)

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help