Surya/

Berita Surabaya

Upacara Ulambana Pudu - Persembahkan Kebaikan agar Arwah Leluhur Kembali ke Nirwana

Arwah gentayangan harus ditebus dengan jasa kebaikan agar bisa kembali ke nirwana dan tidak mengganggu manusia yang masih hidup.

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Manusia yang meninggal tidak wajar dipercaya akan bergentayangan dan tidak tenang di alam baka. Arwah gentayangan harus ditebus dengan jasa kebaikan agar bisa kembali ke nirwana dan tidak mengganggu manusia yang masih hidup.

Begitu kepercayaan taoisme yang dianut sesuai kebudayaan Tiongkok dan juga agama Budha. Oleh sebab itu, agar arwah yang tidak tenang bisa reinkarnasi dan kembali ke nirwana, sanak saudara yang ada di dunia harus memberikan jasa kebaikan untuk dipersembahkan kepada arwah leluhur tersebut. Itulah alasan digelarnya upacara Ulambana Pudu oleh Yayasan Sosial Bhakti Moral Ji Yuan De Jiao, Minggu (17/9/2017).

Sejak sore, peserta upacara sudah sibuk menyiapkan wejangan yang akan dipersembahkan untuk para arwah leluhur. Aneka hidangan nikmat sudah tersaji di meja.

Di sisi yang lain ada yang menyiapkan ribuan lembar buncua (uang yang berlaku di akhirat) yang dibentuk seperti bunga teratai rumah-rumahan, miniatur mobil, pakaian, dan juga sepatu sandal. Aneka barang-barang tersebut akan dibakar agar bisa digunakan untuk menebus mereka di alam arwah.

"Upacara dimulai dengan serangkaian pembacaan doa dan pemanggilan arwah. Ini betujuan agar arwah leluhur bisa datang dan menyantap hidangan yang sudah kami siapkan," ucap Ketua Yayasan Sosial Bhakti Moral Ji Yuan De Jiao Hui, Lie Hok An.

Saat para arwah tersebut datang, mereka akan berebutan hidangan. Sehingga upacara ini sering disebut dengan Hungry Ghost Festival atau perayaan sembayang rebutan.

Usai memakan hidangan para arwah itu dalam upacara ini digiring untuk melewati pintu neraka dan dilanjutkan dengan melewati jembatan. Tanda perpindahan agar bisa sampai ke nirwana atau ke kehidupan yang lebih baik.

"Baru setelah itu arwah-arwah itu diarahkan ke tempat pembakaran untuk mengambil persembahan dari sanak kerabat," ucapnya.

Menjelang malam, usai menyiapkan serangkaian lilin dan upacara doa yang panjang, persembahan untuk para leluhur mulai dibakar. Asap membumbung tinggi di tengah gelapnya malam.

"Kebudayaan ini harus dilestarikan. Kami senang setiap tahun pesertanya semakin banyak. Ini membuat arwah leluhur kita semua sepat berpindah ke kehidupan yang lebih baik dan tidak mengganggu kita yang masih hidup," katanya.

Upacara Ulambana Pudu ini diselenggarakan setiap setahun sekali. Yaitu setiap tanggal 15 bulan ke tujuh tahun imlek.

Tidak hanya melakukan ritual pembakaran barang-baranh yang dibutuhkan arwah di alam baka. Namun keluarga juga memberikan donasi kebaikan berupa sembako untuk disumbangkan ke panti asuhan.

"Menurut kepercayaan kami, besarnya kebaikan yang diberikan ini akan menentukan dia akan ke nirwana jika sudah habis keburukannya, atau kembali dilahirkan sebagai hewan atau sebagai manusia," ucap anggota yayasan, Gayatri.

Salah satu penganut kepercayaan peserta Hungry Ghost Festival, Sumardi, mengatakan dalam upacara ulambana kali ini ia memberikan banyak persembahan untuk leluhurnya.

"Saya mengirimkan rumah yang bagus untuk leluhur kami di sana. Juga mobil dan pakaian, selain itu ada ratusan uang buncua untuk mereka, agar mereka tenang dan bisa kembalinke nirwana," kata Sumardi.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help