Surya/

Citizen Reporter

Agar Guru Tak Terjebak Dosa Literasi …

literasi adalah nyawa bagi dunia pendidikan dan guru sebagai nahkoda pendidikan harus menebarkannya kepada anak didik agar tak terjebak dosa literasi

Agar Guru Tak Terjebak Dosa Literasi …
px
ilustrasi 

Reportase Agus Setiawan
Koordinator SLG/STKIP PGRI Ponorogo

KEBERADAAN media sosial di tengah-tengah mau tidak mau harus disikapi selektif dan cerdas agar tak menimbulkan dampak merugikan, salah satunya hoax.

Sebagai antisipasi, pada 22 Agustus 2017 lalu, SMK Shalahuddin 2 Malang, mengundang dua tokoh literasi, Sutejo dan Masuki M Astro, wartawan senior media nasional untuk berbagi literasi.

“Media sosial itu bagai pesawat tanpa awak, mobil tanpa sopir, dan kapal tanpa nahkoda,” istilah Masuki M Astro. Untuk itulah penting menanamkan kepada anak didik agar cerdas media. Mengingat usianya yang belum matang akan mudah dimasuki segala hal, utamanya berkaitan dengan media sosial.

Guru sebagai lokomotif pendidikan memiliki peran penting menjadikan media sosial sebagai lahan yang mengundang manfaat. Jika tidak, keberadaanya akan menjadi bom waktu, akan menjadi mobil tanpa sopir yang menyasar tanpa memilih sasaran.

Sementara Sutejo mewanti-wanti para guru untuk memahami, memaknai dan mengaplikasikan literasi ke berbagai ranah kehidupan. Utamanya di lingkungan pendidikan.

“Guru wajib berliterasi, kalau tidak akan berdosa besar,” ujar Sutejo seraya mengingatkan bila puncak perilaku adalah literasi.

"Ingat, literasi adalah nyawa bagi dunia pendidikan,” tutur penulis 20 buku itu di depan 100 guru se Malang raya itu.

Agar tak terjebak dosa literasi, Sutejo kemudian memandu guru untuk memahami beberapa teknik menulis. Para guru diajak untuk mengamati salah satu guru, yang sengaja dijadikan model.

Guru diarahkan untuk memperhatikan secara seksama wajahnya, lekuk hidung, bentuk wajah, hingga matanya. Setelah selesai mengamati diarahkan untuk menuliskan apa yang dilihat.

Teknik yang disebut Sutejo teknik visual dengan melihat sudut objek dan kemudian menuliskannya bisa diterapkan untuk menulis puisi, cerpen, dan paragraf deskripsi.

Romlan, Kepala SMK Shalahuddin 2 Malang mengaku bangga dengan apresiasi para guru yang hadir. "Ada gurat kebahagiaan di wajah para guru,” ujarnya.   

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help