Berita Surabaya

Dewan Usulkan Pengadaan BRT Daripada Trem

Rencana Pemkot Surabaya yang bakal melakukan lelang atau tender untuk pengadaan trem dikomentari oleh anggota DPRD Kota Surabaya

Dewan Usulkan Pengadaan BRT Daripada Trem
surya/parmin
Vinsensius Awey 

SURYA.co.id | SURABAYA - Rencana Pemkot Surabaya yang bakal melakukan lelang atau tender untuk pengadaan trem dikomentari oleh anggota DPRD Kota Surabaya, Vinsensius Awey.

Anggota Komisi C bidang pembangunan ini menganggap akan cukup sulit mencari investor untuk mendanai proyek trem senilai Rp 3 trilliun lebih dengan jarak tempuh yang pendek.

"Untuk jalur utara selatan tahap awal kan hanya Joyoboyo, Tunjungan, Joyoboyo lagi. Kalau hanya rute pendek begini akan susah cari investor, sebab balik modalnya kemungkinan akan lama," kata politisi Partai Nasdem ini.

Menurutnya, para pebisnis tentu tidak akan melihat dari segi kecepatan balik modal. Dengan jarak tempuh yang pendek, mereka akan cenderung enggan untuk merogoh kocek dengan dana besar untuk ikut investasi.

"Kalaupun mereka bersedia maka harga tiketlah yg akan dibebankan tinggi ke masyarakat pengguna trem. Tentu harga tinggi tiket akan membuat minat warga menggunakan trem menjadi rendah juga," komentarnya.

Seandainya, ia melanjutkan, harga tiket yanb tinggi ini disubsidi oleh pemerintah agar dapat terjangkau dan meningkatkan minat warga Surabaya, maka risikonya Pemkot harus menyediakan anggaran lebih untuk subsidi tarif.

"Artinya harus siap, subsidi itu akan berasal dari APBD. Dengan demikian anggaran APBD akan terbebani untuk subsidi tiket ini," ucapnya.

Jika memang Pemkot berencana untuk tender dengan biaya full dari APBD maka pihaknya meminta keseriusan Pemkot untuk melakukan pengawasan.

Jangan hanya berjanji akan segera merealisasikan proyem trem, sehingga warga masyarakat Surabaya dijanjikan adanya transportasi massal namun tidak segera terwujud.

"Kalau memang berat, sebab memang anggarannya besar, tidak masalah Pemkot mulai memikirkan alternatif angkutan massal yang lain. Misalnya bus rapid transit (BRT)," ucap Awey.

Bus ini dikatakannya akan mirip dengan solusi angkutan umum di Jakarta. Dimana Pemprov DKI Jakarta melakukan pengadaan Transjakarta untuk mengurangi kemacetan dan penggunaan kendaraan pribadi.

"Sama-sama angkutan massal kan, tidak harus kereta. Yang membedakan hany soal trem berjalan di atas rel dengan kecapatan 40-60 kilometer perjam," kata Awey.

Sedangkan untuk BRT kecepatannya juga bisa berkisar angka tersebut dengan penyediaan jalur khusus. Dan sifatnya akan lebih fleksibel.

Serta akan sesuai dengan pengembangan Kota Surabaya yang mengembangkan pedestrian. Bus BRT ini bisa dipilih yang low deck agar ramah terhadap orang tua, anak-anak dan penyandang kebutuhan khusus.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved