Surya/

Citizen Reporter

Karena Membaca dan Menulis Itu Keren, maka …

tidak ada yang lebih keren dan mengasyikan selain membaca dan menulis, paket hemat kekasih dunia akhirat ...

Karena Membaca dan Menulis Itu Keren, maka …
biddle-audenreed
ilustrasi literasi 

Reportase Muhammad Rasyid Ridho
Pendiri Rumah Buku Taman Cahaya/pengajar kelas menulis/penulis buku antologi/tinggal di Bondowoso

RABU (30/8/2017), aula SMAN 2 Bondowoso dipenuhi pelajar dan beberapa guru. Saat itu saya didaulat menjadi pembicara dalam workshop literasi membaca bertajuk How to Get Inspiration to Write.

Bu Olif, pembina ektrakurikuler karya ilmiah remaja, berharap acara bermanfaat sehingga ada follow up seperti pelatihan lanjutan dalam bentuk kelas menulis kreatif atau yang lainnya.

Saya memulai bahasan dengan memberikan fakta menyedihkan mengenai penelitian Most Littered Nation In The World (2016), bahwa minat baca di Indonesia berada di peringkat ke 60 dari 61 negara.

Namun jangan cemas, karena masih ada harapan dari generasi TK dan SD. Rumah Buku Taman Cahaya dan taman baca di car free day alun-alun Bondowoso yang saya jalankan meniupkan dengan kehadiran bocah-bocah TK dan pelajar SD bersama orangtua mereka untuk membaca buku.

Saya tekankan bila membaca itu hot dan menulis itu cool. Gampangnya, membaca dan menulis itu keren! Satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan, laiknya suami dan istri.

Istilah mengikat makna dari Hernowo, seorang editor dan penulis buku, yang menyatakan jika hanya membaca, sungguh tak menghasilkan. Jika mampu mengikat makna, minimal menulis tentang perasaan saat membaca buku beserta manfaat yang bisa diambil atau yang lebih panjang lagi yaitu menulis review dan resensi.

Selain semakin memudahkan untuk mengingat apa yang dibaca, mengikat makna juga berarti berhasil memproduksi karya setelah membaca.

Atau teori teko Nurudin, guru menulis saya, yang mengibaratkan otak adalah teko kosong yang jika tak diisi dengan membaca, akan bingung atau bahkan sulit menuangkan gagasan dalam tulisan.

Sejatinya menulis itu asyik. Lihat saja, bagaimana Pipiet Senja, penderita thalasemia namun bisa kuat hingga hari ini dan bahkan bisa jalan-jalan ke banyak kota di Indonesia dan ke luar negeri karena menulis. Pun demikian yang saya dapatkan lewat keterampilan menulis.

Di akhir acara peserta belajar menulis satu paragraf berdasarkan sebuah gambar. Hasilnya, ide mereka hampir tidak sama, semua unik. Bahkan ada yang mampu membuat semua peserta tertawa.

Hal ini membuktikan masih ada harapan dari Bondowoso, dari pelajar SMAN 2 Bondowoso khususnya, jika terus dipoles dan dimotivasi semoga akan lahir banyak penulis yang karyanya menghiasi Indonesia dan dunia.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help