Surya/

Berita Banyuwangi

Istri Akbar Tandjung Terkesan Pesona Wisata Banyuwangi

Di sanggar seni budaya itu, rombongan langsung disuguhi seni khas Banyuwangi seperti Tari Gandrung dan musik lesung yang dimainkan nenek-nenek.

Istri Akbar Tandjung Terkesan Pesona Wisata Banyuwangi
surya/haorrahman
Krisnina Maharani Akbar Tandjung, bersama rombongan saat mengunjungi Banyuwangi. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Krisnina Maharani Akbar Tandjung, istri dari tokoh senior dan Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, Akbar Tandjung, bersama 50 temannya mengunjungi Banyuwangi.

Nina mengaku terkesan dengan tradisi bahari nelayan Banyuwangi sekaligus tradisi Suku Using di Desa Kemiren yang merupakan warga asli Banyuwangi.

Nina tiga hari 9-12 September 2017, berada di Banyuwangi bersama 50 orang dari Yayasan Warna Warni Indonesia yang dipimpinnya.

Salah satu lokasi yang dikunjunginya adalah Sanggar Genjah Arum di Desa Kemiren, Kecamatan Galgah Banyuwangi.

Tari gandrung menjadi suguhan tamu saat berkunjung ke Banyuwangi.
Tari gandrung menjadi suguhan tamu saat berkunjung ke Banyuwangi. (surya/haorrahman)

Di sanggar seni budaya itu, rombongan langsung disuguhi seni khas Banyuwangi seperti Tari Gandrung dan musik lesung yang dimainkan nenek-nenek.

"Desa Kemiren itu eksotis, bagus banget. Saya pikir itulah kearifan lokal. Ini yang harus kita jaga di tengah arus besar budaya global, jadi kita tetap harus memiliki tradisi kita sendiri, ada kekhasan diri sendiri," ungkap Nina.

Tidak hanya itu, Nina juga melihat langsung proses pengolahan biji kopi khas warga Kemiren dan langsung bisa menikmati kelezatan kopi Banyuwangi.

"Di sana ada pengetahuan tentang kopi, belum lagi beragam tradisinya. Desa Kemiren itu bagi saya adalah cerita yg luar biasa," ujar Nina.

Nina menilai pembangunan kebudayaan di Banyuwangi sudah berjalan. Kekhasan masing-masing wilayahnya bisa terekspos dengan baik.

"Saya dukung Pak Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) yang terus berupaya menjaga dengan menampilkan tradisi daerahnya ke setiap wisatawan. Kekhasan kampungnya di sini keluar semua. Dan yang bagus, masyarakat di Banyuwangi juga turut antusias. Banyak perubahan yang terjadi di sini," jelas Nina.

Untuk itu, dia berniat membawa kisah bagaimana Banyuwangi menghidupkan tradiainya ke dalam forum budaya internasional di Bali.

Rombongan ini dijadwalkan menghadiri diskusi The International Conference on Language, Literature, Culture, and Education di Bali, 19 - 20 September 2017.

"Saya habis ini ikut forum budaya internasional di Bali, akan ada sesi diskusi dan sharing. Banyuwangi akan menjadi inspirasi saya juga," kata Nina.

Di Banyuwangi, Nina dan rombongan yayasannya pun sempat mengunjungi sejumlah destinasi wisata, di antaranya di Pantai Pulau Merah.

Yayasan Warna-warni Indonesia adalah lembaga nirlaba yang berfokus pada upaya peningkatan apresiasi terhadap pluralisme, tradisi, wisata, kebudayaan, dan sejarah bangsa Indonesia.

Penulis: Haorrahman
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help