Surya/

Citizen Reporter

Refleksi dan Kritik dari Candi

mereka yang peduli dan kreatif sepakat 'menghidupkan' kembali candi pada tatanan kehidupan masa kini agar generasi tak kehilangan akar masa lalunya ..

Refleksi dan Kritik dari Candi
yusri fajar/citizen reporter
Ikhsan mengemas kritik lewat lirik dalam Bahana Badhut 

Reportase Yusri Fajar
Dosen FIB Universitas Brawijaya/Komite Sastra Dewan Kesenian Jawa Timur

MENELUSURI candi pada dasarnya tidak hanya melihat hasil budaya material, namun juga mengamati kembali proses kreatif, tradisi dan keyakinan manusia. Jika berkunjung ke Malang dan ingin melakukan renungan dan menggali pengetahuan historis dan kultural, Anda bisa singgah di beberapa candi yang ada di Malang.

Bagi seniman, arkeolog, budayawan dan penyuka sejarah, candi tampaknya bukan dianggap semata benda mati dan simbol kejayaan serta ritual masa silam, namun juga hasil budaya yang menginspirasi proses kreatif.

Di candi Badut Malang, di tengah desir angin dan di bawah cahaya bulan, Jumat, 8 September 2017, orang-orang kreatif dan memiliki daya kritis berkumpul dalam acara Bahana Badhut. Tak hanya untuk mengenang kembali kejayaan Kanjuruhan masa silam, namun untuk merefleksikan relasi sejarah dengan masa kini dan mengekspresikan kritik atas ketidakpedulian pada candi sebagai salah satu ikon kebudayaan bangsa.

Akademisi sekaligus arkeolog dari Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono, dan beberapa seniman dan komunitas, seperti Totok Tewek, Nova dan Flastine, Arrington, Redy Eko Prastyo,  Iksan, Monohero, Celoteh Sastra, para penari serta penabuh gamelan berkolaborasi dan berekspresi seperti menghidupkan nilai-nilai kultural yang terpancar dari candi.

Penampilan mereka berkesinambungan dari awal hingga akhir seperti ingin membangun narasi yang utuh, dan memberikan kesan yang tidak semata bersifat artistik, namun juga mengajak pentonton turut berefleksi dan membuka kepekaan dan kritik.

Redy Eko Prastyo mengatakan candi bukan semata peninggalan sejarah, cagar budaya dan ruang spiritual semata, tapi merupakan sumber kreatif yang bisa menginspirasi lahirnya ide. Hal ini tentu menarik karena di zaman global seperti sekarang, pusat-pusat manusia beraktivitas telah didominasi oleh berbagai produk dan ruang budaya populer yang ada di pusat-pusat kota.

Secara khusus Iksan yang tampil tepat di depan pintu candi menyanyikan lagu dengan lirik penuh kritik atas kondisi Malang sebagai kota yang lahannya makin dipenuhi  bangunan dan terkurung polusi. Lihat saja di sekitar candi Badut perumahan-perumahan telah berdiri. 

Lokasi candi Badut yang kian terjepit perumahan dikritisi Dwi Cahyono. Baginya, candi Badut tak punya tampak pandang dari muka, lepas dari perhatian penguasa dan nyaris dilupakan orang.

Sementara, Kanjuruhan dan produk budayanya, di mata Dwi Cahyono, juga tak masuk buku paket di sekolah. Fenomena ini tentu kontraproduktif dengan upaya untuk membuat anak didik peduli dan mengerti identitas budaya bangsa Indonesia.

Tanpa mempelajari sejarah orang seringkali gagap dalam memosisikan dirinya dalam perkembangan zaman yang sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari masa lalu dan masa kini. Tidak adanya upaya memasukkan khazanah sejarah candi Badut dalam pelajaran ini juga menunjukkan kurangnya ketidakpedulian para insan dunia pendidikan. 

Refleksi atas nilai-nilai dari candi Badut juga ditegaskan  Dwi Cahyono yang menyatakan, kinara-kinari berpasangan yang terwujud dalam relief pada tatanan balok batu andesit di candi Badut merupakan simbol kebersamaan, lambang persaudaraan, saling mengisi, bahu membahu, dan mencerminkan harmoni. Nilai-nilai ini tentu saja merefleksikan relasi yang diperlukan dalam keberagaman.

Jika dikaitkan dengan masyarakat multikultural Indonesia, semangat saling menghormati, menjaga kerukunan, dan memberi dukungan antara satu dengan lainnya sangat dibutuhkan. Jika tidak yang terjadi tentu permusuhan, berbagai ekspresi kebencian, dan saling menjatuhkan.

Kehadiran akademisi, seniman, dan para penonton pada Bahana Badhut menunjukkan kepedulian pada eksistensi candi secara khusus, dan tentu saja pada kekayaan budaya Indonesia pada umumnya, yang akan mengonstruksi identitas nasional Indonesia. Menyuarakan ide dan kritik dari candi yang menjadi bagian dari hasil budaya penuh makna, pada dasarnya membuka kesadaran dan membangkitkan semangat untuk melakukan tindakan nyata untuk bangsa.

      

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help