Surya/

Lapsus Pengungsi Rohingya

Derita Pengungsi Rohingya di Jatim - 'Keinginan Terbesar Kami, Kembali Pulang ke Kampung Halaman'

Para pengungsi muslim Rohingya ini mengaku sangat ingin pulang ke kampung halaman dan hidup damai di sana.

Derita Pengungsi Rohingya di Jatim - 'Keinginan Terbesar Kami, Kembali Pulang ke Kampung Halaman'
surya/hayu yudha prabowo
uluhan mahasiswa yang tergabung dalam Gema Pembebasan Malang Raya membentangkan poster dalam aksi solidaritas muslim di Jalan Veteran, Kota Malang, Senin (28/11/2016). 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Terhitung ada 13 orang asal Rohingya yang tinggal di Rusun Puspa Agro bersama sekitar 140 imigran lain.

Para muslim Rohingya pun mengaku sangat ingin pulang ke kampung halaman dan hidup damai di sana.

“Keinginan terbesar kami adalah kembali pulang ke kampung halaman. Berkumpul dengan orangtua, saudara, famili, tetangga, dan lain sebagainya seperti dahulu kala. Tapi, itupun jika kampung kami sudah bisa kembali aman, tentram, dan damai,” kata Suaib.

“Tapi jika kondisinya masih seperti sekarang ini, jelas pulang kampung tidak mungkin. Karena itu, kami berharap dukungan dari berbagai pihak di dunia, supaya persoalan Rohingya segera selesai. Kami tidak minta negara, kami cuma ingin hak hidup normal,” ujar Suaib.

Para pengungsi Rohingya yang tinggal di Rusun Puspa Agro terus mendapat pengawasan ketat dari petugas imigrasi.

Jika dulu yang melakukan pengawasan adalah Imigrasi Surabaya, sejak terbit Perpres nomor 125 tahun 2016 tentang Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri, mereka ditangani oleh Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim).

Dan di Jawa Timur baru ada satu Rudenim, yakni Rudenim Surabaya yang berkantor di Jalan Raya Raci, Pasuruan.

Dikonfirmasi mengenai keberadaan pengungsi Rohingya, Kepala Rudenim Surabaya Taty Sufiani mengatakan bahwa 13 imigran Rohingya yang sekarang di Rusun Puspa Agro itu sebelumnya sempat tinggal di Rudenim Surabaya di Jalan Raya Raci, Kabupaten Pasuruan.

“Mereka kami pindahkan setelah mendapatkan status Refugees atau pengungsi dari United Nations High Comiisioner For Refigees (UNHCR) dan International Organization for Migration (IOM) dan mendapatkan persetujuan dari Direktorat Jenderal Imigrasi, beberapa bulan yang lalu,” katanya kepada SURYA.co.id, kemarin. (M Taufik/Aflahul Abidin)

Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help